Selasa, 31 Maret 2009



1. Definisi
Diabetes berasal dari kata Yunani yang artinya mengalir dan latin yang artinya kencing, sedangkan Melitus berasal dari kata latin Madu dan gula. (dr. Andri Hartono, 1996 : 112).



Berikut ini beberapa definisi Diabetes Mellitus, yaitu :
a. Diabetes melitus adalah suatu gangguan kronik metabolisme karbohidrat dimana terjadi ketidakseimbangan antara suplai insulin dan kebutuhan akan insulin. (Luckman and Sorensen’s, 2000 : 1544).
b. Diabetes melitus adalah suatu penyakit kronik dimana terjadi gangguan metabolisme karbohidrat, protein dan lemak dan berkembang menjadi komplikasi terhadap makrovaskular, mikrovaskular, dan neurologis sebagai hasil dari kurangnya produksi insulin. (Barbara, 1994 : 104).
c. Diabetes melitus adalah bukan merupakan penyakit tunggal tetapi gabungan dari penyakit keturunan dan heterogen. Dimanifestasikan dengan ketidaknormalan hasil homeostasis glukosa (glukosa dalam darah meningkat) yang disebut hiperglikemia. (Lewis, 2000 : 367).
d. Diabetes Melitus adalah gangguan metabolisme yang secara genetik dan klinis termasuk heterogen dengan manifestasi yang berupa hilangnya toleransi karbohidrat (Sylvia A. Price, 1995 : 112).
Klasifikasi
a. DM tipe I (IDDM/Insulin Dependent Diabetes Melitus)
Pada diabetes tipe ini terdapat ketidak mampuan untuk menghasilkan insulin karena sel – sel pangkreas telah dihancurkan oleh proses autoimun atau diabetes yang tergantung insulin dimana sel  pankreas yang memproduksi insulin yang dalam keadaan normal dihancurkan oleh suatu proses autoimun, sehingga glukosa yang seharusnya ditangkap oleh sel untuk dimetabolisme tidak dapat masuk karena tidak ada insulin. Penyebabnya juga mencakup faktor genetik, imunologi atau lingkungan (virus).disamping itu glukosa yang berasal dari makanan tidak dapat disimpan dalam hati meskipun terap beraa dalam darah dan menimbulkan hiperglikemi post prandial ( sesudah makan ). Jika konsentrasi glukosa dalam darah cukup tinggi, ginjal tidak dapat menyerap kembali semua glukosa yang sering keluar, akibatnya glukosa muncul dalam urine ( Glukosuria ). Ketika glikosa tersebut meningkat diekskresikan kedalam urin, ekskresi ini akan disertai pengeluaran cairan dan elektrolit yang berlebihan. Keadaan ini disebut Diuresis osmotic. Sebagai dari akibat dari kehilangan cairan yang berlebihan pasien akan mengalami peningkatan dalam berkemih ( poli urie ) dan rasa haus ( polidipsia )
Defisiensi insulin juga mengganggu metabolisme protein dan lemak yang menyebabkan penurunan berat badan.Pasien dapat mengalami peningkatan selera makan ( poli pagia ). Akibatnya menurunyan simpanan kalori. Gejala lainya mencakup kelelahan dan kelemahan.
Dalam keadaan normal insulin mengendalikan glikogenolosis ( pemecahan glukosa yang disimpan ) dan glukonegesis ( pembentukan glukosa baru dari asam-asam amino serta sub stansi lain), namun pada penderita depediensi insulin, proses ini akan terjadi tanpa hambatan yang lebih lanjut turut menimbulkan hiperglikemi. Disamping itu akan terjadi pemecahan lemak yang meningkatkan produksi benda keton yang merupakan produk samping pemecahan lemak. Benda keton merupakan asam yang menggangu keseimbangan asam basa tubuh apabila jumlahnya berlebihan. Ketoasidosis dibetik yang diakibatkan dapat menyebabkan tanda-tanda dan gejala seperti nyeri abdomen, mual, muntah, hiperpentilasi, nafas berbau asetun dan bila tidak ditangani akan menimbulkan perubahan kesadaran, koma bahkan kematian. Pemberian insulin bersama dengan cairan dan elektrolit sesuai kebutuhan akan memperbaiki dengan cepat kelainan metabolic tersebut dan mengatasi hiperglikemi serta ketoasidosis. Diet dan latiahan diserta pemantauan kadar glukosa darah yang sering merupakan komponen therapy yang penting.
DM tipe I ini biasa terjadi pada usia muda kurang dari 30 tahun. Karena pada tipe ini terjadi kerusakan sel beta pankreas maka klien akan memerlukan insulin untuk mempertahankan kelangsungan hidup, karena bila tidak akan sangat beresiko terjadinya ketoasidosis.
b. DM tipe II (NIDDM/Non Insulin Dependent Diabetes Melitus)
Pada diabetes tipe ini terdapat dua masalah utama yang berhubungan dengan insulin yaitu resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin.
Jumlah sekresi insulin mencukupi tetapi jumlah yang disekresi tidak seimbang dengan jumlah yang dibutuhkan, hal ini menyebabkan produksi insulin menurun. Biasanya ditemukan pada klien usia lebih dari 30 tahun, kadang dengan obesitas. Pada diabetes tipe ini umumnya tidak terjadi ketoasidosis. Walaupun tidak tergantung pada tambahan insulin dari luar, namun klien mungkin memerlukan untuk mempertahankan kadar gula darah yang adekuat. Pada kasus ini biasanya terjadi resistensi terhadap kerja insulin normal, karena interaksi insulin dengan reseptor insulin pada sel kurang efektif, sehingga glukosa tidak dapat masuk ke dalam sel.



c. Diabetes Gestational
Diabetes tipe ini terjadi pada masa kehamilan yang disebabkan oleh sekresi hormon-hormon plasenta yang menghambat kerja insulin sehingga terjadi intoleransi glukosa.
d. Diabetes melitus yang berhubungan dengan keadaan atau sindrom lain.
Diabetes melitus tipe ini didapat pada orang yang dengan kadar gula darah post prandial lebih dari nilai normal. Nilainya berkisar lebih dari atau sama dengan 140 mg/dl dan kurang dari 200 mg/dl, namun pada golongan ini biasanya belum didiagnosa sebagai diabetes melitus, hanya saja pada pasien ini dianggap sebagai golongan dengan resiko tinggi terhadap diabetes

2. Anatomi Fisiologi
Pankreas merupakan salah satu bagian dari sistem endokrin yang terletak di abdomen bagian tengah, di bawah dan di belakang lambung di depan vertebra lumbal pertama. Panjangnya + 15 cm, lebar 5 cm dari duodenum sampai limpa, berat 60-90 gram terdiri dari 3 bagian : kepala pankreas terletak di sebelah kanan abdomen di dalam lengkungan duodenum, badan pankreas merupakan bagian utama pankreas yang terletak di belakang lambung, di depan vertebra lumbalis pertama; bagian yang runcing merupakan ekor pankreas yang terletak di sebelah kiri yang sebenarnya menyentuh limpa.

Gbr.2.1
Gibson, John 2002 : Fisiologi dan Anatomi Modern untuk Perawat Edisi . Jakarta : 112.

Pankreas adalah kelenjar majemuk bertandan, strukturnya mirip dengan kelenjar lidah, panjang kira-kira 15 cm dari duodenum sampai limpe dan dilukiskan menjadi tiga bagian
1. Kepala penkreas yang paling lebar, terletak disebelah kanan rongga abdomen dan didalam lekungan duodenumdan paling praktis melingkarnya.
2. Badan penkreas merupakan bagian utama pada rongga itu dan letaknya dibelakang lambung dan didekat vetebra lumbinalis pertama
3. Ekor pancreas adalah bagian runcing disebelah kiri yang sebenarnya menyentuh limpe.
Pankreas terletak diretroperitonea rongga abdomen bagian atas dan terbentang horizontal dari cincin duodenal kelien. Panjang sekitar 10 – 20 cm dan lebar 2,5 – 5 cm mendapat pasokan darah dari arteri mesenterika superior dan spelenikus.
Pankreas berfungsi sebagai organ endokrin dan esokrin. Funsinya sebagai organ endokrin didukung oleh pulau-pulau langerhans terdiri tiga jenis yaitu ; Sel alpa yang menghasilkan glikogen, sel beta yang menghasilkan insulin dan sel delta yang menghasilkan somatostatin namun fungsinya belum jelas terpenuhi.
Organ sasaran kedua hormone ini adalah hepar, otot dan jaringan lemak. Glukogen dan insulin memegang peranan penting dalam metabolisme karbonhidrat, protein dan lemak. Bahkan keseimbangan kadar gula darah sangat dipengaruhi oleh kedua hormone ini
Insulin adalah hormone yang dihasilkan didalam sel beta pada sel inta alveolar. Fungsinya adalah merangsang transfer glukosa melalui dinding sel dan dengan demikian meningkatkan peningkatan gula darah diatas batas normal. Glukogen adalah hormone yang dihasilkan oleh sel alpa pada sel intra alveolar, fungsi utamanya adalah mengkonversi glukogen dalam hepar menjadi glukosa, kerja ini menghasilkan efek yang berlawanan dalam kerja insulin.
Struktur pankreas, merupakan kumpulan kelenjar yang masing-masing mempunyai saluran, saluran tersebut bersatu menjadi duktus pankreatikus, duktus pankreatikus menjadi duktus koledukus yang diteruskan ke duodenum di bawah pilorus. Pankreas mempunyai dua fungsi yaitu :
a. Fungsi eksokrin
Mensekresi enzim-enzim pencernaan yang mencakup enzim amilase yang membantu pencernaan karbohidrat, tripsin yang membantu pencernaan protein dan lipase yang membantu pencernaan lemak.
b. Fungsi endokrin
1) Sel beta : memproduksi hormon insulin yang berfungsi menurunkan kadar glukosa dalam darah dengan memfasilitasi masuknya glukosa ke dalam sel jaringan hati, otot dan jaringan lain tempat glukosa disimpan sebagai glikogen atau dibakar untuk menghasilkan energi.
2) Sel alfa : memproduksi hormon glukagon (yang berlawanan dengan efek insulin) terutama adalah menaikkan kadar glukosa darah melalui konversi glikogen menjadi glukosa dalam hati. Glukagon disekresikan oleh pankreas sebagai respon terhadap penurunan kadar glukosa darah.
3) Sel delta : memproduksi hormon somatostatin yang menimbulkan efek hipoglikemik dengan menghambat pelepasan glukagon.

3. Etiologi
a. Diabetes melitus tipe I
1) Faktor genetik: kecenderungan genetik ditemukan pada individu yang memiliki tipe antigen HLA (Human Leucocyte Antigen) yang spesifik (DR3 atau DR40.
2) Autoimun: merupakan respon abnormal dimana antibodi terarah pada sel beta. Reaksi antigen (sel beta) dengan antibodi yang ditimbulkannya menyebabkan hancurnya sel beta.
3) Virus (rubela, mumps)



b. Diabetes melitus tipe II
1) Obesitas
2) Kurang aktivitas
3) Keturunan
4) Usia (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia 65 tahun).

4. Patofisiologi
Insulin merupakan hormon yang diproduksi oleh sel beta pankreas, insulin diproduksi terus menerus sesuai tingkat kadar glukosa dalam darah. Pada penderita diabetes melitus produksi insulin terganggu atau tidak diproduksi sama sekali.Glukosa yang berasal dari makanan tidak dapat disimpan dalam hati dan tetap berada dalam darah menimbulkan hiperglikemia sesudah makan. Hiperglikemia puasa terjadi karena produksi glukosa dalam darah cukup tinggi, ginjal tidak dapat menyerap kembali semua glukosa yang tersaring keluar (> 180 mg/dl), akibatnya terjadi glukosuria. Ketika glukosa berlebihan diekskresi ke dalam urine dan elektrolit yang berlebihan menyebabkan diuresis osmotik. Hal ini akan mengakibatkan pasien mengalami poliuria dan polidipsi. Defisiensi insulin juga mengganggu metabolisme protein dan lemak yang menyebabkan penurunan berat badan, pasien akan mengalami peningkatan selera makan (polifagia) akibat menurunnya simpanan kalori, gejala lainnya mencakup kelelahan dan kelemahan. Pada penderita diabetes melitus proses glikogenolisis (pemecahan glukosa yang disimpan) dan glukoneogenesis (pembentukan glukosa baru dari asam-asam amino serta substansi lain) terjadi tanpa hambatan dan lebih lanjut menimbulkan hiperglikemia. Di samping itu, terjadi pemecahan lemak yang mengakibatkan peningkatan produksi badan keton dan pemecahan protein mengakibatkan peningkatan ureum. Ureum dan keton bersifat asam yang mengganggu keseimbangan asam basa, bila dalam jumlah yang banyak menimbulkan ketoasidosis dengan tanda dan gejala seperti nyeri abdomen, mual, muntah, hiperventilasi, napas berbau aseton, dan bila tidak ditangani akan menimbulkan perubahan kesadaran, koma bahkan kematian.

5. Tanda dan Gejala
a. Tanda dan gejala awal:
1) Poliuria karena kehilangan cairan yang berlebihan.
2) Polidipsi karena dehidrasi intra sel.
3) Polifagia karena pemasukan glukosa menurun.
4) Berkurangnya berat badan
5) Badan lemas dan lelah
b. Tanda dan gejala lanjutan
1) Luka sulit sembuh karena sirkulasi darah yang buruk.
2) Gangren karena luka yang sulit sembuh.
3) Penglihatan kabur terganggunya saraf retinopati.
4) Gatal pada kulit karena terganggunya saraf neuropati.
5) Kesemutan/baal pada ekstremitas karena terganggunya saraf neuropati.
6) Mual dan muntah asidosis metabolik.
7) Membran mukosa mulut kering karena asidosis metabolik
8) Turgor kulit tidak elastis karena asidosis metabolik.
9) Pernafasan bau aseton
10) Pernafasan kusmaul
11) Sakit pada abdomen
12) Diare/konstipasi
13) Kulit kering dan merah
14) Ketidakmampuan berkonsentrasi
15) Tremor
16) Takikardi
17) Palpitasi
18) Kejang
19) Koma




6. Pemeriksaan Diagnostik
a. Tes glukosa darah
1) GDS : mengetahui kadar gula darah sewaktu, normal 70-110 mg/dl.
2) NPP (Nuchter post prandial), normalnya < 140 mg/dl.
Gula darah yang diperiksa dua kali yaitu sebelum makan dan dua jam setelah makan dengan tujuan menegakkan diagnosa dan ditunjukkan kepada klien yang sama sekali belum diketahui adanya penyakit DM.
3) KH (Kurva Harian)
Gula darah diperiksa sebanyak tiga kali yakni sebelum makan, jam 11.00 dan jam 16.00 yang dilakukan secara periodik yang bertujuan untuk mengevaluasi terapi diabetikum.
4) HbA1C, normalnya 4-6%.
Nilai lebih dari 8% menunjukkan diabetes yang tidak terkontrol.
b. Pemeriksaan urin
Untuk mengetahui kadar glukosa dan keton dalam urin.
c. AGD
Untuk mengetahui adanya asidosis metabolik.
d. Serum elektrolit : natrium mungkin normal, meningkat atau menurun; kalium normal atau meningkat selanjutnya akan menurun; fosfor: lebih sering menurun.
e. Glucose Toleransi Test ( GTT )
Pemeriksaan dilakukan sebanyak 5 kali yang mana sebelumnya pasien diberi glukosa baik oral maupun parenteral. Dan ini ditujukan pada pasien yang pada pengkajian didapatkan adanya Diabetes mellitus.

7. Penatalaksanan Medik
Tujuan terapeutik pada diabetes melitus adalah untuk mencapai kadar glukosa darah normal tanpa terjadinya hipoglikemia dan gangguan serius pada pola aktivitas pasien. Ada lima komponen dalam penatalaksanaan diabetes:
a. Diet
Penatalaksanaan nutrisi pada penderita diabetes diarahkan untuk memberikan semua unsur makanan esensial (vitamin, mineral), mempertahankan berat badan yang sesuai, memenuhi kebutuhan energi, mencegah fluktuasi kadar glukosa darah mendekati normal melalui cara-cara yang aman/praktis dan menurunkan kadar lemak darah jika kadar ini meningkat.
Komposisi diet karbohidrat 60-70%, protein 10-15%, lemak 20-25%, tinggi serat, hindari alkohol.

b. Aktivitas dan latihan
Latihan dilakukan 3-4 kali seminggu selama 30-60 menit.
Fungsi latihan :
1) Menurunkan berat badan, mengurangi rasa stress dan mempertahankan kesegaran tubuh.
2) Meningkatkan penggunaan glukosa oleh otot yang aktif.
3) Menurunkan kadar glukosa darah dan mengurangi faktor resiko kardiovaskuler.
4) Mencegah komplikasi.
Syarat latihan :
1) Dilakukan setelah pemasukan karbohidrat 1-2 jam.
2) Disesuaikan dengan kadar gula darah, tidak dilakukan bila kadar gula darah > 250 mg/dl.
Pedoman untuk latihan :
1) Hindari latihan dalam udara yang sangat panas/dingin.
2) Gunakan alas kaki yang tepat, dan bila perlu alat pelindung kaki yang lainnya.
3) Periksa kaki setiap hari sesudah melakukan latihan.
4) Hindari latihan saat pengendalian metabolik buruk.
c. Terapi farmakologik
1) Insulin untuk DM tipe I.
2) Obat anti diabetik oral untuk DM tipe II.
Fungsinya :
1) Mengatur transpor glukosa dalam sel.
2) Membantu menurunkan kadar glukosa darah mendekati nilai normal.
d. Pemantauan/monitoring
Melakukan pemeriksaan kadar gula darah secara teratur dan menjaga kadar HbAlC < 7% yang merupakan indikator kontrol hiperglikemia.
e. Penyuluhan
Tujuan penyuluhan adalah meningkatkan pengetahuan, merubah perilaku dan memperbaiki kualitas hidup, serta menghindari komplikasi:
1) Patofisiologi sederhana yaitu definisi penyakit, batas-batas kadar glukosa yang normal, efek terapi insulin dan latihan, efek makanan dan stres yang mencakup keadaan sakit dan infeksi dan dasar pendekatan terapi.
2) Cara-cara terapi yaitu pemberian insulin, dasar-dasar diet (kelompok makanan dan jadwal), pemantauan kadar gula darah dan keton urine.
3) Pengenalan, penanganan dan pencegahan komplikasi akut yaitu hipoglikemia dan hiperglikemia.
4) Informasi yang pragmatis yaitu dimana membeli dan menyimpan insulin, alat-alat untuk memantau kadar gula darah, kapan dan bagaimana cara menghubungi dokter.
5) Perawatan yaitu : kaki, mata, higiene umum dan kebersihan kulit.
6) Pengendalian faktor resiko yaitu mengendalikan tekanan darah dan kadar lemak.

8. Komplikasi
a. Komplikasi jangka pendek
1) Diabetik ketoasidosis (DKA)
Disebabkan oleh tidak adanya insulin atau tidak cukup jumlah insulin. Keadaan ini mengakibatkan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak, protein. Gambaran klinis yang penting dalam diabetik ketoasidosis yaitu dehidrasi, kehilangan elektrolit, asidosis.
Penanganannya dengan periksa gula darah setiap jam, elektrolit, AGD, tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu setiap jam, keadaan hidrasi, balance cairan, pemberian oksigen bila PO2 < 80 mmHg.
2) Hipoglikemi (kadar gula darah < 70 mg/dl)
Keadaan ini akibat pemberian insulin atau preparat oral antidiabetik yang berlebihan, konsumsi makanan yang terlalu sedikit atau karena aktivitas fisik yang berat. Gejala hipoglikemia dapat terjadi mendadak dan tanpa diduga sebelumnya. Hipoglikemia ringan ketika kadar glukosa darah menurun. Tanda-tanda hipoglikemia ringan: tremor, takikardi, palpitasi, kegelisahan dan rasa lapar. Hipoglikemia sedang : penurunan glukosa darah menyebabkan sel-sel otak tidak memperoleh cukup bahan bakar untuk bekerja dengan baik, tanda-tanda: ketidak-mampuan berkonsentrasi, sakit kepala, vertigo, konfusi, penurunan daya ingat, mati rasa di daerah bibir serta lidah, gerakan tidak terkoordinasi, perubahan emosional, penglihatan ganda dan perasaan ingin pingsan. Sedangkan hipoglikemia berat; fungsi sistem saraf pusat mengalami gangguan yang sangat berat sehingga pasien menunjukkan gejala perilaku yang disorientasi, serangan kejang, sulit dibangunkan dari tidur atau bahkan kehilangan kesadaran. Penanganan hipoglikemia: stadium awal: pemberian gula murni + 30 gram (2 sendok makan) atau sirop, permen dan makanan yang mengandung hidrat arang. Stadium lanjut (koma): berikan larutan glukosa 40% sebanyak flacon, melalui intravena setiap 10-20 menit hingga sadar disertai pemberian infus dextrose 10% 6 jam/kolf (20-21 tetes/menit). Bila belum teratasi dapat diberikan antagonis insulin seperti adrenalin, kortison atau glukagon 1 mg intravena.
3) Sindrome Hiperglikemik Hiperosmolar Non Ketotik (SHHNK)
Merupakan keadaan yang didominasi oleh hiperosmolalitas, hiperglikemi dengan disertai perubahan tingkat kesadaran. keadaan ini paling banyak terjadi pada individu yang berusia 50-70 tahun karena peningkatan usia yang khas pada penderita SHHNK, maka pemantauan ketat terhadap status volume dan elektrolit diperlukan untuk mencegah gagal jantung kongestif dan disritmia jantung.
b. Komplikasi jangka panjang
1) Mikrovaskular
a) Nefropati
Bila kadar glukosa darah meningkat maka mekanisme filtrasi ginjal mengalami stres yang menyebabkan kebocoran protein ke dalam urine, akibatnya tekanan dalam pembuluh darah ke ginjal meningkat yang akhirnya kegagalan ginjal dapat terjadi.
b). Neuropati
(1). Neuropati perifer
Sering mengenal bagian distal serabut saraf, khususnya saraf ekstremitas bawah.
(2). Neuropati otonom
Organ-organ yang terkena neuropati otonom, kardiovaskuler (takikardia, hipotensi ortostatik dan infark) dan gastrointestinal (pengosongan lambung ke duodenum menjadi terhambat sehingga terjadi mual, muntah, makan sedikit sudah kenyang.
(3). Retinopati, menyerang pembuluh-pembuluh darah retina sehingga mengalami kebutaan.
c). Makrovaskular
Terjadi kerusakan makrovaskuler di arteri besar. Komplikasi makrovaskular terjadi akibat penebalan membran basal pembuluh-pembuluh besar. Penebalan makrovaskular menyebabkan iskemia dan penurunan penyaluran oksigen ke jaringan. Komplikasi makrovaskular timbul terutama akibat aterosklerosis yang menyebabkan gangguan aliran darah, sehingga timbul penyakit jangka panjang dan peningkatan mortalitas.

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
Pada tahap ini semua data / informasi tentang pasien yang dibutuhkan, dikumpulkan dan analisa untuk menentukan diagnosa keperawatan yang dilakukan melaui tiga tahap yaitu : pengumpulan, pengelompokan atau pengorganisasian serta menganalisa dan merumuskan diagnosa keperawatan :


a. Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan
1). Riwayat penyakit pasien dan keluarga.
2). Penggunaan obat seperti steroid, diurektik (tiazid), dilantin dan fenobarbital (dapat meningkatkan kadar glukosa darah)
3). Usia > 30 tahun atau < 30 tahun
4). Tergantung pada insulin
5). Obesitas
6). Kurang latihan/aktivitas
7). Ketaatan menjalankan terapi
b. Pola nutrisi metabolik
1). Polifagia
2). Polidipsi
3). Luka sulit sembuh
4). Mual dan muntah
5). Haus
6). Berat badan menurun
7). Turgor kulit berkurang
8). Kulit kering
c. Pola eliminasi
1). Poliuria
2). Nokturia
3). Diare/konstipasi
4). Rasa nyeri/terbakar saat berkemih
5). Bising usus lemah dan menurun, hiperaktif (diare).
d. Pola aktivitas dan latihan
1). Lemah, letih, sulit bergerak/berjalan
2). Tonus otot menurun
3). Kram otot
e. Pola tidur dan istirahat
1). Sering terbangun karena nokturia
f. Pola persepsi kognitif dan sensori
1). Pusing/pening
2). Sakit kepala
3). Kesemutan
4). Baal
5). Kram otot
6). Pandangan kabur
7). Nyeri abdomen.
g. Pola persepsi dan konsep diri
1). Harga diri rendah karena penyakit.
2). Masalah finansial.
h. Pola peran dan hubungan dengan sesama
1). Perubahan peran dalam keluarga/masyarakat.

i. Pola reproduksi seksual
1). Impoten pada pria
2). Penurunan libido
j. Pola mekanisme koping terhadap stress
1). Ansietas
2). Peka rangsang
3). Apatis.
k. Pola nilai dan kepercayaan
1). Komitmen untuk merubah gaya hidup: diet, obat, aktivitas.
2). Berusaha untuk mengubah cara hidup, diit, pengobatan dan pola aktivitas.

2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang menjelaskan status atau masalah kesehatan aktual atau potensial, tujuannya adalah mengidentifikasi pertama, adanya masalah actual berasarkan respon klien terhadap masalah atau penyakit. Kedua, faktor-faktor yang berkontribusi atau penyebab adanya masalah kemampuan klien untuk mencegah atau menghilangkan masalah
a. Kekurangan volime cairan tubuh berhubungan dengan diurisis osmotik dari hiperglikemi kehilangan gastric berlebihan: diare, muntah masukan dibatasi mual, kacau mental.
b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidak cukupan insulin(penurunan ambilan dan pengunaan glukosa) oleh jaringan mengakibatkan peningkatan metabolisme protein/lemah penurunan masukan oral: anoreksia, mual, lambung penuh, nyeri abdomen, perubahan kesadaran, status metabolisme, pelepasan hormone stress (missal epineprin, kortisol, dan hormone pertumbuhan proses infeksius).
c. intoleransi aktifitas berhubungan dengan mobilisasi dan kelemahan fisik
d. potensial atau aktual terjadi perlukaan dan infeksi berhubungan dengan tingginya kadar gula darah, penurunan fungsi leukosit
e. kurang pengetahuan tentang tanda dan gejala DM, diet, pengobatan yang berhubungan dengan kurang informasi
f. perubahan persepsi sensori berhubungan dengan ketidak seimbangan glukosa atau insulin dan elektrolit.

3. Perencanaan Keperawatan
a. DP 1. Kekurangan volume cairan tubuh berhubungan dengan diuresis osmotic (dari hipergikemi) kehilangan gastric berlebihan: diare, muntah, mual, kacau mental kemungkinan dibuktikan oleh peningkatan haluaran urin, urin encer, kelemahan, haus, penurunan berat badan tiba-tiba, kulit/membrane mukosa kering, turgor kulit buruk, hipotensi, taki kardi, perambatan fungsi kapiler.
Hasil yang diharapkan : Hidrasi adekuat yang ditandai oleh TTV stabil, nadi perifer dapat diraba, turgor kulit dan pengisian kapiler baik, kadar elektrolit dalam batas normal dalam waktu 3 hari.
Intervensi:
1). dapatkan riwayat klien atau orang terdekat sehubungan dengan lamanya atau intensitas dari gejal seperti muntah, pengeuaran urin yang sangat berlebihan
Rasional: bantu dalam memperkirakan kekurangan volume cairan total, tanda dan gejala mungkin sudah ada pada beberapa waktu sebelumnya. Kaji warna kulit, kelembaban, suhu tubuh.
2). Kaji nadi perifer, pengisian kapiler, turgor kulit dan membran mukosa.
Rasional: Indikator dari tingkat dehidrasi, atau volume sirkulasi yang adekuat.
3). Pantau masukan dan pengeluaran.
Rasional: Memberi perkiraan kebutuhan akan cairan pengganti, fungsi ginjal, dan keefektifan dari terapi yang diberikan.
4). Beri cairan paling sedikit 2500 ml/hari dalam batas yang dapat ditoleransi jantung jika pemasukan cairan oral sudah dapat diberikan.
Rasional: Mempertahankan hidrasi/volume sirkulasi.
5). Kolaborasi dengan tim medik, pemeriksaan serum elektrolit dan terapi cairan intravena.
Rasional: Identifikasi kekurangan elektrolit dan sebagai pemenuhan cairan yang keluar.

b. DP 2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidak cukupan insulin(penurunan ambilan dan pengunaan glukosa) oleh jaringan mengakibatkan peningkatan metabolisme protein/lemah penurunan masukan oral: anoreksia, mual, lambung penuh, nyeri abdomen, perubahan kesadaran, status metabolisme, pelepasan hormone stress (missal epineprin, kortisol, dan hormone pertumbuhan proses infeksius)
Hasil yang diharapkan : Kebutuhan nutrisi tetap terpenuhi yang ditandai BB stabil, kebutuhan kalori terpenuhi, hasil gula darah dalam batas normal (GDS < 140 mg/dl) dalam waktu 5 hari.
Intervensi:
a). Timbang BB setiap 1 minggu sekali.
Rasional: Mengkaji pemasukan makanan yang adekuat.
b). Auskultasi bising usus, catat adanya nyeri abdomen/perut kembung, mual, muntah.
Rasional: Hiperglikemi dan gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit dapat menurunkan motilitas/fungsi lambung.
c). Pantau kadar gula darah.
Rasional: Kadar glukosa darah dapat mempengaruhi ambang batas ginjal.
d). Observasi tanda-tanda hipoglikemia, seperti perubahan tingkat kesadaran, kulit lembab/dingin, denyut nadi cepat, lapar, cemas, pusing.
Rasional: Jika pasien dalam keadaan koma, hipoglikemia mungkin terjadi tanpa memperlihatkan perubahan tingkat kesadaran.
e). Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian insulin secara teratur dengan metode IV secara intermiten atau secara kontinyu.
Rasional: Insulin reguler memiliki awitan cepat dan karenanya dengan cepat pula dapat membantu memindahkan glukosa ke dalam sel.




c. DP 3. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan mobilisasi dan kelemahan fisik
Hasil yang diharapkan : Klien menunjukkan peningkatan energi yang ditandai dengan mampu berpartisipasi dalam aktivitas yang dilakukan dalam waktu 3 hari.
Intervensi:
1). Observasi nadi, pernapasan dan tekanan darah sebelum/sesudah melakukan aktivitas.
Rasional: Mengindikasikan tingkat aktivitas yang dapat ditoleransi secara fisiologis.
2). Diskusikan cara menghemat kalori selama mandi, berpindah tempat dan sebagainya.
Rasional: Pasien akan dapat melakukan lebih banyak kegiatan dengan penurunan kebutuhan akan energi pada setiap kegiatan.
3). Beri aktivitas alternatif dengan periode istirahat yang cukup.
Rasional: Untuk mencegah kelelahan yang berlebihan.
4). Tingkatkan partisipasi pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari sesuai dengan tingkat yang dapat ditoleransi.
Rasional: Meningkatkan kepercayaan diri yang positif sesuai tingkat aktivitas yang dapat ditoleransi pasien.
5). Dekatkan alat-alat yang dibutuhkan pasien.
Rasional: Mengurangi kebutuhan energi

d. DP 4. potensial atau aktual terjadi perlukaan dan infeksi berhubungan dengan tingginya kadar gula darah, penurunan fungsi leukosit
Hasil yang diharapkan :kulit utuh, tidak terjadi infeksi, klien mengungkapkan tidak ada keluhan gatal dan kesemutan.
Intervensi:
1). Observasi tanda-tanda infeksi seperti demam, kemerahan, nyeri, adanya pus pada luka.
Rasional: Pasien mungkin masuk dengan infeksi yang biasanya telah mencetuskan keadaan ketoasidosis atau dapat mengalami infeksi nosokomial.
2). Cuci tangan sebelum dan setelah melakukan tindakan pada pasien.
Rasional: Mencegah timbulnya infeksi silang (infeksi nosokomial).
3). Pertahankan tehnik aseptik pada prosedur invasif (pemasangan infus, kateter folley, pemberian obat IV).
Rasional: Kadar glukosa yang tinggi dalam darah akan menjadi media terbaik bagi pertumbuhan kuman.
4). Bantu pasien untuk melakukan higiene oral.
Rasional: Menurunkan resiko terjadinya penyakit mulut/gusi.
5). Anjurkan untuk makan dan minum adekuat (pemasukan makanan dan cairan yang adekuat, kira-kira 3000 ml/hari jika tidak ada kontraindikasi).
Rasional: Menurunkan kemungkinan terjadinya infeksi.
6). Beri lotion pada kulit.
Rasional: Mengurangi kekeringan pada kulit dan memberi kelembaban.
7). Anjurkan untuk selalu memakai alas kaki, menjaga ujung jari dan kaki tetap kering.
Rasional: Mencegah terjadinya luka dan lecet pada kaki.

e. Dp 5. Kurang pengetahuan mengenai kondisi, prognosis dan pengobatan yang berhubungan dengan kesalahan interprestasi informasi, kurang mengingat, tidak mengenal sumber-sumber informasi
Tujuan : Pengetahuan klien bertambah setelah diberikan tindakan keperawatan (penyuluhan kesehatan).
Sasaran : Pemahaman tentang proses penyakit
Intervensi :
1) Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang proses penyakit,
Rasional : mengetahui sejauh mana pengetahuan klien dan keluarga
2) Jelaskan kepada klien dan keluarga tentang proses penyakit
Rasional : agar klien dan keluarga mengerti dan memahami tentang proses penyakit
3) Lakukan penyuluhan tentang proses penyakit
Rasional : agar lebih mengerti tentang proses penyakit.

f. DP 6: Perubahan persepsi sensri berhubungan dengan ketidak seimbangan gluksa atau insulin dan elektrlit.
Hasil yang diharapkan: terpelihara status mental dan mengenali serta mengamati kerusakan sensori.
Interpensi :
1). Monitor tanda-tanda vital dan status mental
Rasional : sebagai dasar untuk perbandingan dari nilai yang abnomal seperti suhu yang tinggi mempengaruhi mental
2). tanyakan pada klien nama, kebutuhan, tempat, orang, waktu, berikan penjelasan singkat bicara secara perlahan dan ucapan yang biasa
Rasional : mengurangi kebingungan dan Bantu untuk mengadakan kontak dan reaita.
3). Rencanakan waktu perawatan untuk tidak menganggu waktu istirahat
Rasinal: peningkatan waktu istirahat atau mengurangi kelelahan dapat mengarahkan perhatian.
4). Bantu klien dalam rutinitas yang dimungkinkan, ajak klien untuk berpartisipasi dalam aktipitas kesehatan bila dimungkinkan
Rasional : Bantu klien dalam melihat realitas dan mengarahkan orientasi pada lingkungan
5). Hindari klien dari injuri (pasang restrain) bila kesadarannya terganggu dan menurun
Rasional : klien disoriantasi cendrung injuri, khususnya malam hari dan indikasi untuk memberikan tindakan pencegahaan
6). sediakan kompres hangat tangan dan kaki gunakan selimut hangat
Rasional: berkurangannya kegelisahan dan potensia injuri.
7). Bantu klien untuk ambulasi atau pergantian posisi
Rasional : meningkatkan keselamatan klien, khususnya bila klien dalam keadaan syok.

b. Implementasi
Pelaksanaan adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik( Lyer, Er, Al, 1996). Tahap pelaksanaan dimulai setelah rencana tindakan disusun dan dilanjutkan pada nursing orders untuk membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan. Oleh karena itu rencana tindakan yang spesifik dilaksanakanuntuk memodifikasi factor- factor yang mempengaruhi masalah kesehatan pasien. Tujuan dari pelaksanaan adalah membantu dalam pasien mencapai tujuan yang telah di tetap kan, yang mencakup peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, pemulihan kesehatan dan manisfestasi koping. Dalam memberikan asuhan keperawatan, perawat harus bekerja sama dengan pasien, keluarga serta anggota tim kesehatan yang lain sehingga asuhan yang di berikan dapat optimal dan komprehensif.

c. Evaluasi
Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan yang menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan, rencana tindakan dan pelaksanaan sudah berhasil di capai. Melalui evaluasi memungkinkan perawat untuk memonitor ” kealpaan” yang terjadi selama tahap pengkajian analisa, perencanaan dan pelaksanaan tindakan. Adapun evaluasi yang diharapkan pada penyakit Diabetes Mellitus berdasarkan diagnosa yang muncul adalah bebas dari nyeri, kadar gula darah dalam batas normal, bebas dari malnutrisi, pasien bebas dari infeksi dan dapat beraktivitas serta pengetahuan bertambah
Read More..

EFUSI PLEURA

Pada gangguan sistem pernafasan terutama penyakit efusi pleura dapat menimbulkan berbagai masalah keperawatan. Pada bab ini akan membahas tentang salah satu masalah keperawatan pada ganguan sistem pernafasan terutama pada penyakit efusi pleura. Pada bab ini penulis juga akan membahas tentang konsep dasar gangguan sistem pernafasan terutama penyakit efusi pleura.




A. Tidak efektif Pola Nafas
Tidak efektif pola nafas adalah keadaan dimana seorang individu mengalami kehilangan ventilasi yang aktual atau potensial yang berhubungan perubahan pola nafas. (Carpenito, 2001, hal 315)
Tidak efektif pola nafas adalah suatu kondisi dimana tidak adekuatnya proses inspirasi dan ekspirasi atau pengisian dan pengosongan paru – paru. (Craven, 2000, hal 799 )
Seseorang dikatakan mengalami gangguan pola nafas harus memiliki kriteria berupa (Carpenito, 2001, hal 315).
1. Data Mayor
Terjadi perubahan dalam pola nafas (dari nilai dasar), perubahan pada nadi (frekuensi, irama, kualitas).


2. Data Minor
Takipnea, hiperventilasi, pernafasan disritmik, pernafasan sukar dan berhati – hati.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi perubahan pola nafas (Carpenito, 2001, hal 315).
1. Berhubungan dengan sekresi yang kental atau sekresi yang berlebihan akibat infeksi fibrosis kistik atau influenza.
2. Berhubungan dengan immobilitas, sekresi statis, batuk tak efektif akibat trauma kepala, cedera cerebrovaskular.

B. Pengkajian Sistem Pernafasan
Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan suatu proses yang sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber data untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan klien (Iyer et al,1996). Tahap pengkajian merupakan dasar utama dalam memberikan asuhan keperawatan sesuai kebutuhan klien. Oleh karena itu pengkajian yang akurat, lengkap, sesuai dengan kenyataan merupakan hal yang sangat penting dalam merumuskan suatu diagnosa keperawatan dan memberikan pelyanan keperawatan sesuai dengan respon individu, sebagaimana yang telah di tentukan dalam standar praktik keperawatan dari ANA (American Nursing Asociation).

Adapun yang perlu dikaji pada klien dengan efusi pleura menurut Thomson (1997, hal 169) adalah sebagai berikut :
1. Insufisiensi pernafasan
a.) Distress pernafasan : tacypnea, penurunan pergerakan dinding dada, sesak nafas, gelisah, tachycardi, penurunan suara nafas, perkusi dullnes.
2. Infeksi bronkopulmonari
Temperatur : sputum spesimen untuk kultur, dan sensistivitas.
3. Psikososial
Khawatir sesak dan atau tidak cukup udara, potensial takut dari ketidaktahuan akibat efusi pleura.

C. Patofisiologi
Menurut Guyton dan Hall (1997, hal 597) tujuan dari pernafasan adalah untuk menyediakan oksigen bagi jaringan dan membuang karbondioksida. Untuk mencapai tujuan ini pernafasan dapat di bagi menjadi empat peristiwa fungsional utama ; (1) ventilasi paru, yang berarti masuk dan keluarnya udara antara atmosfir dan alveoli paru, (2) difusi oksigen dan karbondioksida antara alveoli dan darah, (3) transfor oksigen dan karbondioksida dalam darah dan cairan tubuh dari dan ke sel, (4) pengaturan ventilasi dan hal – hal lain yang berkaitan dengan pernafasan.
Agar memahami itu semua maka penulis akan membahas tentang anatomi dan fisiologi pernafasan secara ringkas agar dapat digunakan sebagai dasar untuk memahami konsep patologis penyakit sistem pernafasan terutama efusi pleura yang akan dibahas pada bagian berikutnya.

1. Anatomi Fisiologi Sistem Pernafasan
Sistem pernafasan dibagi menjadi dua bagian yaitu saluran penafasan bagian atas, yang terdiri dari hidung, faring, dan laring, saluran pernafasan bagian bawah yaitu terdiri dari trakea, bronkus dan paru paru.
Gambar 1.1 Anatomi Sistem Pernafasan


Sumber : http://britanica.net

Paru adalah struktur elastik yang dibungkus dalam sangkar toraks, yang merupakan suatu bilik udara kuat dengan dinding yang dapat menahan tekanan. Ventilasi membutuhkan gerakan dinding sangkar toraks dan dasarnya, yaitu digfragma. Efek dari gerakan ini adalah secara bergantian meningkatkan dan menurunkan kapasitas dada. Ketika dalam kapasitas dada meningkat, udara masuk melalui trakea (inspirasi), karena penurunan tekanan di dalam, dan mengembangkan paru. Ketika dinding dada dan diafragma kembali ke ukuran semula (ekspirasi), paru – paru yang elastis tersebut mengempis, dan mendorong udara keluar melalui bronkus dan trakea.
Gambar 1.2 Anatomi Paru – Paru
Sumber : http://britanica.net

Pleura merupakan bagian terluar dari paru – paru di kelilingi oleh membran halus, licin yang juga meluas untuk membungkus dinding anterior toraks dan permukaan superior difragma. Pleura parietalis melapisi toraks, dan pleura viseralis melapisi paru – paru. Antara kedua pleura ini terdapat ruang, yang disebut spasium pleura, yang mengandung sejumlah kecil cairan yang jumlahnya antara 10 – 15 ml yang melicinkan permukaan dan memungkinkan keduanya bergeser dengan bebas selama ventilasi.
Gambar 1.3 Anatomi lapisan pleura
Sumber : http://kappamedical.net

Pernafasan adalah proses ganda, yaitu menghirup udara dari luar yang mengandung oksigen kedalam tubuh, serta menghembuskan udara yang banyak mengandung karbondioksida sebagai sisa dari oksidasi keluar dari tubuh. Penghisapan ini disebut inspirasi dan penghembusan disebut ekspirasi. Fungsi pernafasan adalah mengambil oksigen yang kemudian dibawa oleh darah keseluruh tubuh untuk proses metabolisme, dan mengeluarkan karbondioksida sebagai sisa dari metabolisme. Dalam proses pertukaran gas antara oksigen dan karbondioksida terjadi bila ada perbedaan tekanan. Proses ini disebut dengan difusi. Oksigen berdifusi dari alveoli kedalam darah kapiler paru karena tekanan oksigen (Po2) dalam alveoli lebih besar dari pada Po2 dalam darah paru. Kemudian dalam jaringan, Po2 yang sangat tinggi dalam darah kapiler menyebabkan oksigen berdifusi kedalam sel.
Sebaliknya , bila oksigen dimetabolisme dalam sel untuk membentuk karbondioksida, tekanan karbondioksida (Pco2) meningkat, sehingga karbondioksida berdifusi kedalam kapiler jaringan. Demikian juga, karbondioksida berdifusi keluar dari darah masuk kedalam alveoli karena Pco2 dalam darah kapiler paru lebih besar dari pada dalam alveoli.
Pada dasarnya, transpor dan karbondioksida oleh darah tergantung pada difusi keduanya dan aliran darah.
Empat proses yang berhubungan dengan pernafasan pulmoner adalah sebagai berikut :
b. Ventilasi pulmoner, gerakan pernafasan yang menukar udara dalam alveoli dengan udara luar.
c. Arus darah melalui paru – paru, darah mengandung oksigen masuk keseluruh tubuh dan darah yang mengandung karbondioksida masuk keparu – paru.
d. Distribusi arus udara dan arus darah sedemikian rupa dengan jumlah yang tepat yang bisa dicapai untuk semua bagian.
e. Difusi gas yang menembus membran alveoli dan kapiler karbondioksida lebih mudah berdifusi dari pada oksigen
Mekanisme pernafasan diatur dan dikendalikan oleh dua faktor utama yaitu kimia dan pengaturan pengendalian saraf. Adanya faktor – faktor tertentu merangsang pusat pernafasan yaitu medula oblongata, mengeluarkan impuls yang disalurkan melalui saraf spinalis ke otot pernafasan.
a. Pengendalian otot saraf. Pusat otomatis dalam medula oblongata mengeluarkan impuls eferen ke otot pernafasan melalui radik saraf servikalis dihantarkan kediagfragma oleh saraf prenikus. Impuls ini memberikan kontriksi ritmik pada otot digfragma dan interkostalis yang kecepatannya kira – kira 15 kali setiap menit.
b. Pengendalian secara kimia meliputi frekuensi kecepatan dan kedalamannya gerakan pernafasan. Pusat pernafasan dalam sum – sum tulang belakang sangat peka sehingga kadar alkali harus dapat di pertahankan. Karbondioksida adalah produksi asam dari metabolisme dan bahan asam kimia ini merangsang pusat pernafasan untuk mengirim keluar impuls saraf yang bekerja atas otot pernafasan.

2. Konsef Dasar Efusi Pleura
a. Definisi
Efusi Pleura adalah akumulasi cairan pada rongga pleura (Guyton dan Hall, 1997, hal 623).
Efusi pleura adalah akumulasi cairan pada rongga pleura. (Black, 1997, hal 1166)
Efusi pleura adalah kumpulan cairan dalam rongga pleura antara viseral dan parietal. (Brunner dan Suddars, 1996, hal 502)
Efusi pleura adalah kelebihan akumulasi cairan nonpurulent dalam rongga pleura antara viseral dan parietal. (Thomson, 1997, hal 167)
Jadi, dapat disimpulkan bahwa efusi pleura adalah akumulai cairan di rongga pleura baik pleura viseralis maupun pleura parietalis.
b. Rongga Pleura
Pleura adalah membran tipis yang terdiri dari 2 lapisan yaitu pleura viseralis dan pleura parietalis. Kedua lapisan ini bersatu di daerah hilus arteri dan mengadakan penetrasi dengan cabang utama bronkus, arteri dan vena bronkiaks, serabut saraf dan pembuluh limfe. Secara histologis kedua lapisan ini terdiri atas sel mesotelial, jaringan ikat, pembuluh darah kapiler dan pembuluh getah bening. Pleura parietalis melapisi toraks, dan pleura viseralis melapisi paru – paru. Antara kedua pleura ini terdapat ruang, yang disebut spasium pleura, yang mengandung sejumlah kecil cairan yang jumlahnya antara 10 – 15 ml yang melicinkan permukaan dan memungkinkan keduanya bergeser dengan bebas selama ventilasi.

c. Etiologi
Efusi pleura tidak timbul dengan sendirinya umumnya karena ada penyebab sebelumnya. Adapun penyebab efusi eksudat dan transudat menurut Thomson (1997, hal 167)
1) Eksudat : infeksi virus, tuberkulosis, infeksi bakteri, trauma dada, pankreatitis, demam rematik, penyakit vaskular, kanker, infark paru.
2) Transudat : dialisis peritoneal, perikarditis, sirosis hepatis, gagal jantung, penyakit ginjal.
d. Gejala Klinis
Pada kebanyakan penderita umumnya asimptomatis atau memberikan gejala demam, ringan dan berat badan yang menurun seperti pada efusi yang lain. Nyeri dada yang dapat menjalar ke daerah permukaan karena inervasi syaraf interkostalis dan segmen torakalis atau dapat menyebar ke lengan. Nyerinya terutama pada waktu bernafas dalam, sehingga pernafasan penderita menjadi dangkal dan cepat. Sesak napas dapat terjadi pada waktu permulaan pleuritis disebabkan karena nyeri dadanya dan apabila jumlah cairan efusinya meningkat, terutama kalau cairannya penuh. Batuk pada umumnya non produktif dan ringan terutama apabila disertai dengan proses tuberkulosis di parunya.
e. Tidak Efektif Pola Nafas Akibat Penyakit Efusi Pleura
1) Penyebab Tidak Efektif Pola Nafas
Efusi pleura terjadi karena tertimbunnya cairan pleura secara berlebihan sebagai akibat transudasi (perubahan tekanan hidrostatik dan onkotik) dan eksudasi (perubahan permeabilitas membran) pada permukaan pleura seperti terjadi pada proses infeksi dan neoplasma. Pada keadaan normal ruangan interpleura terisi sedikit cairan untuk sekedar melicinkan permukaan kedua pleura parietalis dan viseralis yang saling bergerak karena pernapasan. Cairan disaring keluar pleura parietalis yang bertekanan tinggi dan diserap oleh sirkulasi di pleura viseralis yang bertekanan rendah.
Di samping sirkulasi dalam pembuluh darah, pembuluh limfe pada lapisan sub epitelial pleura parietalis dan viseralis mempunyai peranan dalam proses penyerapan cairan pleura tersebut. Jadi mekanisme yang berhubungan dengan terjadinya efusi pleura pada umumnya ialah kenaikan tekanan hidrostatik dan penurunan tekanan onkotik pada sirkulasi kapiler, penurunan tekanan kavum pleura, kenaikan permeabilitas kapiler dan penurunan aliran limfe dari rongga pleura, sehingga yang pada awalnya paru – paru dapat memuat 4.500 – 5000 ml di karenakan ekspansi paru menurun akibat adanya penumpukan cairan di rongga pleura yang memberi tahanan pada saat inspirasi dan ekspirasi maka paru – paru hanya dapat memuat udara di bawah kapasitas total paru – paru. Sebagai dampak dari tersebut tubuh berespon agar dapat memenuhi kebutuhan oksigen melalui peningkatan frekuensi pernafasan.
Efusi pleura dapat terjadi akibat trauma yakni trauma tumpul, laserasi, luka tusuk pada dada, ruptur esofagus karena muntah hebat atau karena pemakaian alat waktu tindakan esofagoskopi. Jenis cairan dapat berupa serosa (eksudat/ transudat), hemotoraks, kilo¬toraks, dan empiema.
Analisis cairan efusi dapat menentukan lokasi trauma, misal pada ruptur esofagus kadar pH nya rendah (pH 6,5) karena terkontaminasi dengan 'asam lambung, kadar amilase dalam cairan pleura meningkat karen adanya air ludah (saliva) yang tertelan masuk ke dalam rongga pleura ( Suyono, 2003, hal 935)
Efusi pleura dibagi menjadi dua, yaitu dapat berupa aksudat dan transudat. Eksudat terjadi karena peningkatan permeabilitas membran kapiler kerena suatu peradangan suatu sel atau jaringan yang disebabkan oleh infeksi, infark, neoplasma, dan lain-lain. Penyakit yang dapat menimbulkan eksudat seperti pleuritis, pankreatitis, lupus eritematosus sistemik, skleroderma, rhematoid, ca paru, proses metastasis. Transudat terjadi karena tidak imbangnya produksi dan reabsorbsi (tekanan hidrostatik meningkat sedang tekanan osmotik turun). Penyakit yang dapat menimbulkan transudat: gagal jantung kiri, sindroma nefrotik, obstruksi vena cava superior, sirosis hepatis (Thomson, 1997, hal 167)

f. Pemeriksaan Penujang
1) Foto dada, akumulasi cairan akan terlihat pada bagian anterior dan posterior.
2) Analisa gas darah, untuk mengetahui kadar oksigen dan karbondioksida
3) Torakosintesis, untuk menganalisis cairan pleura. (Lihat tabel 1.2)

g. Penatalaksanaan Klien Dengan Efusi Pleura

Gambar1.5 Penetalaksanaan Klien Dengan Efusi Pleura
Sumber : http://kappamedical.net


D. Diagnosa Keperawatan, Perencanaan, Implementasi Dan Evaluasi
Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respon manusia (status kesehatan atau resiko perubahan pola) dari individu atau kelompok dimana perawat secara akontabilitas dapat mengidentifikasikan dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga status kesehatan, menurunkan, membatasi, mencegah, dan merubah (Carpenito, 2001).
Adapun diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada klien dengan efusi pleura menurut Thomson (1997, hal 169) adalah kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan kolapsnya alveolar.
Tujuan : pertukaran gas optimal, gas darah dalam batas normal
Rencana tindakan :
1. Kaji tanda gelisah, bingung. Rasional : dapat mengindikasikan penurunan gas darah akibat gangguan pernafasan.
2. Monitor adanya tanda – tanda atelektasis.
3. Atur posisi klien dengan memberikan posisi yangn nyaman untuk bernafas.
4. Bantu dengan prosedur torakosintesis dan monitor respon klien setelah prosedur.
5. Kaji tanda – tanda infeksi sekunder di area paru – paru atau rongga pleura.
6. Kaji selang dada berada pada tempatnya.
Kriteria evaluasi yang di harapkan pada klien dengan efusi pleura menurut Thomson (1997, hal 169) adalah pertukaran gas optimal, gas darah dalam batas normal, cairan dalam rongga pleura dalam batas jumlah minimal, foto dada tidak memperlihatkan adanya akumulasi cairan, suara nafas jelas, suara perkusi resonan pada semua daerah paru.

Read More..
COMMUNITY HEALTH NURSING

Keperawatan komunitas adalah suatu sintesa ilmu praktek keperawatan, promosi kesehatan dan pelayanan kesehatan utama. Keperawatan komunitas mencakup pencegahan penyakit, peningkatan kesehatan, empowerment, pembelaan, pengembangan komunitas dan riset.



Ilmu keperawatan komunitas bersifat menyeluruh, yang mana sebagai objeknya adalah individu, keluarga-keluarga dan masyarakat sebebasnya. Perawat memenuhi suatu peran unik di dalam komunitas, mempromosikan dan melindungi kesehatan dengan menggunakan suatu kerangka ketahanan.
Keperawatan komunitas merupakan tindakan untuk mempromosikan jumlah maksimum kesehatan individu dan masyarakat dengan promosi hak untuk memberi tahu pilihan, menentukan nasib sendiri dan pembelaan.
Keperawatan komunitas bertujuan mengidentifikasi dan menghadapi tantangan dan menguasakan orang-orang untuk ber;ubah terhadap agen yang mempengaruhi kesehatan mereka. Praktek ilmu perawatan komunitas dibangun atas pondasi berbagai ilmu perawatan, ilmu pengetahuan. kesehatan masyarakat.
Pelayanan kesehatan utama di uraikan oleh organisasi kesehatan dunia ( WHO ) bahwa ini menentukan tingkat kontak dengan suatu sistem kesehatan yang ada di masyarakat.
Ada beberapa konsep penting yang perlu dipahami dalam melaksanakan praktik keperawatan komunitas antara lain :
1. Pemahaman dan Promosi kesehatan sebagai status phisik lengkap, kesehatan emosional dan social.
2. Kontribusi untuk mengidentifikasi masalah – masalah kesehatan yang ada di masyarakat.
3. Pelayanan kesehatan yang dapat diakses, bisa mampu dan tersedia mendasarkan pada prinsipnya keadilan dan hak kekayaan.
4. Praktik keperawatan yang menyeluruh isi program dan Penyerahan yang meliputi perawatan, awal promosi kesehatan dan intervensi dan identifikasi.
5. Konsultasi dan Keikutsertaan masyarakat dan orang-orang tentang kesehatan dalam memenuhi pelayanan kesehatan mereka sendiri.
6. Menggunakan multi disiplin ilmu.
7. Promosi kesehatan dilakukan dengan bekerjasama sektor lain dalam rangka mengidentifikasi masalah masalah apa saja yang ada di masyarakat terutama masalah kesehatan.
Read More..

TEKNOLOGI DAN KESEHATAN

TELEMEDIKA

Secara umum, telemedika sebagai salah satu ruang lingkup teknik biomedika, diartikan sebagai: aplikasi elektronika, komputer dan telekomunikasi dalam teknik biomedika, untuk melakukan pertukaran informasi kedokteran dari satu tempat ke tempat lain, guna membantu pelaksanaan prosedur kedokteran. Adapun tujuan telemedika adalah guna meningkatkan kualitas hidup manusia, melalui peningkatan pelayanan kesehatan masyarakat dan pendidikan.



Untuk menurunkan angka kematian ibu, bayi & balita, telah diusulkan dan dilakukan berbagai usaha oleh banyak instansi/lembaga dan/atau kelompok, terutama di bawah koordinasi departemen kesehatan. Kelompok Teknik Biomedika telah sejak sekitar tahun 1997 memfokuskan pada penelitian dalam sistem telemedika (ICT-based Telemedicine System). Penggunaan sistem telemedika berbasis teknologi komunikasi & informasi dalam pelayanan kesehatan masyarakat, yang dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan, diharapkan secara bertahap dapat menurunkan angka kematian ibu, bayi & balita di
Indonesia.
Ide pengembangan sistem telemedika di Program Teknik Biomedika ITB timbul dari adanya masalah dalam pelayanan kesehatan masyarakat, serta telah tersedianya berbagai perangkat keras & perangkat lunak komputer (PC), infrastruktur telekomunikasi, perkembangan teknologi & fasilitas internet di Indonesia. Diperlukan waktu sekitar tiga tahun untuk mengembangkan dan memasyarakatkan ide tersebut, sebelum akhirnya mulai dicoba di sejumlah puskesmas, rumahsakit, serta DKK Bandung.

1. SISTEM TELEMEDIKA & APLIKASI

1.1. Pengertian Telemedika

Telemedika merupakan aplikasi teknologi elektronika, komputer dan telekomunikasi dalam teknik biomedika, untuk melakukan pertukaran informasi kedokteran dari satu tempat ke tempat lain, guna membantu pelaksanaan prosedur kedokteran, dengan
tujuan meningkatkan kualitas hidup manusia melalui peningkatan pelayanan kesehatan masyarakat. Dengan demikian, dalam sistem telemedika selalu dilakukan pemrosesan informasi kedokteran dan pengiriman & penerimaan informasi kedokteran, serta hasilnya harus menunjang pelaksanaan prosedur kedokteran.
Beberapa jenis informasi kedokteran: teks alfanumerik, sinyal fisiologi, citra kedokteran (statik & dinamik), bunyi & suara, serta kombinasi dari
informasi tersebut.
Prosedur kedokteran terdiri atas beberapa tahap, termasuk: pengumpulan data pasien, analisis data, menegakkan diagnosa, memberikan terapi, evaluasi dan tindak lanjut. Dengan demikian, pelaksanaan dan/atau aplikasi sistem telemedika selalu
mengharapkan dapat meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat.

1.2. Bagian-bagian Sistem Telemedika

Suatu sistem telemedika secara umum terdiri atas bagian-bagian sebagai berikut:
• Sejumlah Unit (Medical stations) berbasis komputer (PC) atau mikrokontroller
• Infrastruktur telekomunikasi yang tersedia (baik khusus/dedicated maupun berupa jaringan publik)-Sejumlah Modul perangkat lunak telemedika
• Sejumlah Modul perangkat keras telemedika
• Sejumlah alat kedokteran/kesehatan dan/atau alat tambahan lainnya
• SDM (personil pelayanan kesehatan/operator dan teknik).
Bagian-bagian tersebut dapat berupa peralatan yang telah tersedia secara komersial (yang relatif sangat mahal).


Infrastruktur telekomunikasi yang dipergunakan, dapat berupa jaringan khusus (dedicated, leased line) atau jaringan publik, serta dapat berupa:
• Jaringan telepon (PSTN)
• Jaringan telepon bergerak (mobile phone: GSM & CDMA)
• Jaringan telepon satelit
• Jaringan telekomunikasi radio, terestrial, satelit
• Jaringan internet (dengan berbagai metoda akses)
• Kombinasi dari jenis-jenis jaringan tersebut.
Penggunaan jaringan internet akan dapat membuka wawasan & jenis aplikasi baru, mengingat perkembangan teknologi internet & aplikasinya yang sangat pesat akhir-akhir ini.
Untuk keperluan pelayanan kesehatan masyarakat di Indonesia, akan lebih tepat bila dilakukan pengembangan sistem telemedika secara mandiri. Pengembangan sistem telemedika berbasis teknologi informasi & komunikasi (ICT) dapat dan lebih baik
kita kembangkan sendiri.

1.3. Aplikasi Dasar Sistem Telemedika

Ada banyak jenis aplikasi dasar yang dapat diperoleh dengan sistem telemedika berbasis teknologi informasi & komunikasi (ICT), antara lain:
• Pencatatan dan Pelaporan data pasien
• Basis Data dan Evaluasi pelayanan kesehatan
• Pencatatan dan Pelaporan data obat
• Tele-koordinasi
• Tele-konsultasi sederhana
Pendidikan jarak jauh (bagi masyarakat dan bagi petugas kesehatan)
Dari aplikasi dasar tersebut dapat dikembangkan (diturunkan) pula menjadi sejumlah aplikasi lanjut

2. PENGEMBANGAN SISTEM TELEMEDIKA

Untuk bidang pelayanan kesehatan masyarakat, kelompok penelitian Teknik Biomedika ITB telah melakukan pengembangan sistem telemedika berdasar suatu keperluan nyata dalam pelayanan kesehatan di DKK Bandung dan sejumlah puskesmas dalam ruang-lingkupnya. Selain itu, pengembangan telah dilakukan berdasarkan infrastruktur
telekomunikasi yang tersedia di Bandung.
Read More..

Sabtu, 28 Maret 2009

KOMPAS.com - Dijelaskan oleh Dr. Eddy Supriyadi, Sp.A, dari RS Sardjito Yogyakarta, ada dua komponen dasar dalam perkembangan otak anak, yaitu lingkungan yang aman dan pengalaman positif. Saat seorang bayi merasa tertekan, otak akan merespon dengan menghasilkan zat kortisol. Kadar kortisol yang tinggi akan memperlambat perkembangan otak.

ADVERTISEMENT

Lingkungan aman dan nyaman diperlukan bayi untuk membantu perkembangan otaknya. Beri respon saat bayi menangis maupun mengoceh.

Pengalaman yang diterima setiap hari juga akan membantu perkembangan otak anak. Aktivitas yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti mengajak anak ke pasar atau ke toko buku, ujar dokter anak lulusan UGM ini, sangat penting untuk pembentukan jaringan perkembangan sel otak. Dr. Eddy memberikan 10 tip bagi orangtua untuk membangun dasar perkembangan otak anak:

1. Beri perawatan dan kasih sayang yang adekuat selama masa kehamilan.
2. Beri nutrisi yang cukup. Enam bulan pertama kehidupan bayi, berikan kecukupan nutrisi dengan ASI.
3. Berikan lingkungan yang aman dan nyaman bagi anak.
4. Berbicaralah kepada bayi. Buat kontak mata saat berbicara dengan anak. Jangan lupa selalu tersenyum kepada anak.
5. Bila harus menitipkan anak, carilah tempat penitipan yang bermutu tinggi.
6. Kenalkan aneka ragam musik pada anak, dan bernyanyilah bersama.
7. Beri interaksi yang nyata dengan anak demi perkembangan otaknya. Jangan biarkan anak menonton televisi terlalu lama. Batasi waktunya.
8. Beri ruang bagi anak untuk dapat berinteraksi dengan teman sebaya.
9. Redakan stres pada orangtua. Orangtua yang mengalami stres cenderung mengalihkan stres kepada anaknya. Bila Anda merasa stres, cobalah bercerita kepada orang yang dekat dengan Anda.
10. Ingat, otak tidak akan pernah berhenti berkembang. Jadi, beri stimulasi sebanyak-banyaknya secara terus-menerus.

Read More..

Jumat, 27 Maret 2009

HERNIA NUKLEUS PURPOSUS ( HNP)

by teguh budi prasetyhoe
Pengertian
Diskus Intervertebralis adalah lempengan kartilago yang membentuk sebuah bantalan diantara tubuh vertebra. Material yang keras dan fibrosa ini digabungkan dalam satu kapsul. Bantalan seperti bola dibagian tengah diskus disebut nukleus pulposus. HNP merupakan rupturnya nukleus pulposus. (Brunner & Suddarth, 2002)

Hernia Nukleus Pulposus bisa ke korpus vertebra diatas atau bawahnya, bisa juga langsung ke kanalis vertebralis. (Priguna Sidharta, 1990)

Patofisiologi
Protrusi atau ruptur nukleus pulposus biasanya didahului dengan perubahan degeneratif yang terjadi pada proses penuaan. Kehilangan protein polisakarida dalam diskus menurunkan kandungan air nukleus pulposus. Perkembangan pecahan yang menyebar di anulus melemahkan pertahanan pada herniasi nukleus. Setela trauma *jatuh, kecelakaan, dan stress minor berulang seperti mengangkat) kartilago dapat cedera.
Pada kebanyakan pasien, gejala trauma segera bersifat khas dan singkat, dan gejala ini disebabkan oleh cedera pada diskus yang tidak terlihat selama beberapa bulan maupun tahun. Kemudian pada degenerasi pada diskus, kapsulnya mendorong ke arah medula spinalis atau mungkin ruptur dan memungkinkan nukleus pulposus terdorong terhadap sakus dural atau terhadap saraf spinal saat muncul dari kolumna spinal.

Hernia nukleus pulposus ke kanalis vertebralis berarti bahwa nukleus pulposus menekan pada radiks yang bersama-sama dengan arteria radikularis berada dalam bungkusan dura. Hal ini terjadi kalau tempat herniasi di sisi lateral. Bilamana tempat herniasinya ditengah-tengah tidak ada radiks yang terkena. Lagipula,oleh karena pada tingkat L2 dan terus kebawah sudah tidak terdapat medula spinalis lagi, maka herniasi di garis tengah tidak akan menimbulkan kompresi pada kolumna anterior.
Setelah terjadi hernia nukleus pulposus sisa duktus intervertebralis mengalami lisis sehingga dua korpora vertebra bertumpang tindih tanpa ganjalan.
Manifestasi Klinis
Nyeri dapat terjadi pada bagian spinal manapun seperti servikal, torakal (jarang) atau lumbal. Manifestasi klinis bergantung pada lokasi, kecepatan perkembangan (akut atau kronik) dan pengaruh pada struktur disekitarnya. Nyeri punggung bawah yang berat, kronik dan berulang (kambuh).

Pemeriksaan Diagnostik
1. RO Spinal : Memperlihatkan perubahan degeneratif pada tulang belakang
2. M R I : untuk melokalisasi protrusi diskus kecil sekalipun terutama untuk penyakit spinal lumbal.
3. CT Scan dan Mielogram jika gejala klinis dan patologiknya tidak terlihat pada M R I
4. Elektromiografi (EMG) : untuk melokalisasi radiks saraf spinal khusus yang terkena. Read More..

PENTINGNYA nETWORK BAGI PERAWAT

by theguh prasetyhoe
Siapa yang bilang kalo perawat cuma bisa eksis di rumah sakit? kalau dulu perawat dikenal hanya bisa bekerja di rumah sakit, fakta masa kini sudah berbicara lain. Sudah banyak perawat yang eksis di luar profesi utamanya sebagai perawat, entah sebagai pedagang MLM, menjadi trainer, sampai menjadi konsultan di bidang Teknologi Informasi yang tentu saja semuanya masih berhubungan dengan dunia keperawatan.

Namun pencapaian tersebut tidak cukup hanya dengan meningkatkan kemampuan individu di bidang-bidang lain yang kita minati, selain itu perawat juga perlu meningkatkan kualitas jaringan/networking baik terhadap sesama perawat maupun dengan orang-orang lain di luar lingkungan keperawatan.

Bila kita lihat ilustrasi di atas, ada berbagai macam warna yang masing-masing warna terdiri dari lebih satu orang. yang ingin digambarkan ilustrasi di samping adalah: warna yang berbeda menggambarkan keberagaman profesi yang ada di sekitar perawat baik di rumah sakit maupun di lingkungan lain seperti lingkungan rumah, pengajian, gereja, atau perkumpulan-perkumpulan lain yang masing-masing memiliki sejumlah orang di dalamnya.

dengan meningkatkan kualitas networking perawat diharapkan kemudahan dan keberagaman informasi akan didapatkan perawat untuk terus mengimprove keahliannya, dan dengan networking pula informasi mengenai keahlian diri kita akan sampai lebih cepat dan lebih banyak ke orang lain. Semakin luas jaringan yang kita bangun akan semakin luas pula area informasi yang di dapat, demikian pula informasi mengenai diri kita akan semakin luas tersebar. Makanya jangan heran bila melihat hanya segelintir perawat yang bisa sukses di berbagai bidang dan sepintas terlihat tidak berhubungan dengan dunia keperawatan, hal itu karena memang baru sedikit perawat yang menyadari pentingnya networking bagi pengembangan diri mereka, kebanyakan dari perawat masih berpikir bahwa perawat hanya sebatas perkara bertemu klien dan memberikan obat orderan dokter.

Ayo kita mulai membangun jaringan seluas-luasnya dari sekarang…!!! Read More..