
1. Definisi
Diabetes berasal dari kata Yunani yang artinya mengalir dan latin yang artinya kencing, sedangkan Melitus berasal dari kata latin Madu dan gula. (dr. Andri Hartono, 1996 : 112).
Berikut ini beberapa definisi Diabetes Mellitus, yaitu :
a. Diabetes melitus adalah suatu gangguan kronik metabolisme karbohidrat dimana terjadi ketidakseimbangan antara suplai insulin dan kebutuhan akan insulin. (Luckman and Sorensen’s, 2000 : 1544).
b. Diabetes melitus adalah suatu penyakit kronik dimana terjadi gangguan metabolisme karbohidrat, protein dan lemak dan berkembang menjadi komplikasi terhadap makrovaskular, mikrovaskular, dan neurologis sebagai hasil dari kurangnya produksi insulin. (Barbara, 1994 : 104).
c. Diabetes melitus adalah bukan merupakan penyakit tunggal tetapi gabungan dari penyakit keturunan dan heterogen. Dimanifestasikan dengan ketidaknormalan hasil homeostasis glukosa (glukosa dalam darah meningkat) yang disebut hiperglikemia. (Lewis, 2000 : 367).
d. Diabetes Melitus adalah gangguan metabolisme yang secara genetik dan klinis termasuk heterogen dengan manifestasi yang berupa hilangnya toleransi karbohidrat (Sylvia A. Price, 1995 : 112).
Klasifikasi
a. DM tipe I (IDDM/Insulin Dependent Diabetes Melitus)
Pada diabetes tipe ini terdapat ketidak mampuan untuk menghasilkan insulin karena sel – sel pangkreas telah dihancurkan oleh proses autoimun atau diabetes yang tergantung insulin dimana sel pankreas yang memproduksi insulin yang dalam keadaan normal dihancurkan oleh suatu proses autoimun, sehingga glukosa yang seharusnya ditangkap oleh sel untuk dimetabolisme tidak dapat masuk karena tidak ada insulin. Penyebabnya juga mencakup faktor genetik, imunologi atau lingkungan (virus).disamping itu glukosa yang berasal dari makanan tidak dapat disimpan dalam hati meskipun terap beraa dalam darah dan menimbulkan hiperglikemi post prandial ( sesudah makan ). Jika konsentrasi glukosa dalam darah cukup tinggi, ginjal tidak dapat menyerap kembali semua glukosa yang sering keluar, akibatnya glukosa muncul dalam urine ( Glukosuria ). Ketika glikosa tersebut meningkat diekskresikan kedalam urin, ekskresi ini akan disertai pengeluaran cairan dan elektrolit yang berlebihan. Keadaan ini disebut Diuresis osmotic. Sebagai dari akibat dari kehilangan cairan yang berlebihan pasien akan mengalami peningkatan dalam berkemih ( poli urie ) dan rasa haus ( polidipsia )
Defisiensi insulin juga mengganggu metabolisme protein dan lemak yang menyebabkan penurunan berat badan.Pasien dapat mengalami peningkatan selera makan ( poli pagia ). Akibatnya menurunyan simpanan kalori. Gejala lainya mencakup kelelahan dan kelemahan.
Dalam keadaan normal insulin mengendalikan glikogenolosis ( pemecahan glukosa yang disimpan ) dan glukonegesis ( pembentukan glukosa baru dari asam-asam amino serta sub stansi lain), namun pada penderita depediensi insulin, proses ini akan terjadi tanpa hambatan yang lebih lanjut turut menimbulkan hiperglikemi. Disamping itu akan terjadi pemecahan lemak yang meningkatkan produksi benda keton yang merupakan produk samping pemecahan lemak. Benda keton merupakan asam yang menggangu keseimbangan asam basa tubuh apabila jumlahnya berlebihan. Ketoasidosis dibetik yang diakibatkan dapat menyebabkan tanda-tanda dan gejala seperti nyeri abdomen, mual, muntah, hiperpentilasi, nafas berbau asetun dan bila tidak ditangani akan menimbulkan perubahan kesadaran, koma bahkan kematian. Pemberian insulin bersama dengan cairan dan elektrolit sesuai kebutuhan akan memperbaiki dengan cepat kelainan metabolic tersebut dan mengatasi hiperglikemi serta ketoasidosis. Diet dan latiahan diserta pemantauan kadar glukosa darah yang sering merupakan komponen therapy yang penting.
DM tipe I ini biasa terjadi pada usia muda kurang dari 30 tahun. Karena pada tipe ini terjadi kerusakan sel beta pankreas maka klien akan memerlukan insulin untuk mempertahankan kelangsungan hidup, karena bila tidak akan sangat beresiko terjadinya ketoasidosis.
b. DM tipe II (NIDDM/Non Insulin Dependent Diabetes Melitus)
Pada diabetes tipe ini terdapat dua masalah utama yang berhubungan dengan insulin yaitu resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin.
Jumlah sekresi insulin mencukupi tetapi jumlah yang disekresi tidak seimbang dengan jumlah yang dibutuhkan, hal ini menyebabkan produksi insulin menurun. Biasanya ditemukan pada klien usia lebih dari 30 tahun, kadang dengan obesitas. Pada diabetes tipe ini umumnya tidak terjadi ketoasidosis. Walaupun tidak tergantung pada tambahan insulin dari luar, namun klien mungkin memerlukan untuk mempertahankan kadar gula darah yang adekuat. Pada kasus ini biasanya terjadi resistensi terhadap kerja insulin normal, karena interaksi insulin dengan reseptor insulin pada sel kurang efektif, sehingga glukosa tidak dapat masuk ke dalam sel.
c. Diabetes Gestational
Diabetes tipe ini terjadi pada masa kehamilan yang disebabkan oleh sekresi hormon-hormon plasenta yang menghambat kerja insulin sehingga terjadi intoleransi glukosa.
d. Diabetes melitus yang berhubungan dengan keadaan atau sindrom lain.
Diabetes melitus tipe ini didapat pada orang yang dengan kadar gula darah post prandial lebih dari nilai normal. Nilainya berkisar lebih dari atau sama dengan 140 mg/dl dan kurang dari 200 mg/dl, namun pada golongan ini biasanya belum didiagnosa sebagai diabetes melitus, hanya saja pada pasien ini dianggap sebagai golongan dengan resiko tinggi terhadap diabetes
2. Anatomi Fisiologi
Pankreas merupakan salah satu bagian dari sistem endokrin yang terletak di abdomen bagian tengah, di bawah dan di belakang lambung di depan vertebra lumbal pertama. Panjangnya + 15 cm, lebar 5 cm dari duodenum sampai limpa, berat 60-90 gram terdiri dari 3 bagian : kepala pankreas terletak di sebelah kanan abdomen di dalam lengkungan duodenum, badan pankreas merupakan bagian utama pankreas yang terletak di belakang lambung, di depan vertebra lumbalis pertama; bagian yang runcing merupakan ekor pankreas yang terletak di sebelah kiri yang sebenarnya menyentuh limpa.
Gbr.2.1
Gibson, John 2002 : Fisiologi dan Anatomi Modern untuk Perawat Edisi . Jakarta : 112.
Pankreas adalah kelenjar majemuk bertandan, strukturnya mirip dengan kelenjar lidah, panjang kira-kira 15 cm dari duodenum sampai limpe dan dilukiskan menjadi tiga bagian
1. Kepala penkreas yang paling lebar, terletak disebelah kanan rongga abdomen dan didalam lekungan duodenumdan paling praktis melingkarnya.
2. Badan penkreas merupakan bagian utama pada rongga itu dan letaknya dibelakang lambung dan didekat vetebra lumbinalis pertama
3. Ekor pancreas adalah bagian runcing disebelah kiri yang sebenarnya menyentuh limpe.
Pankreas terletak diretroperitonea rongga abdomen bagian atas dan terbentang horizontal dari cincin duodenal kelien. Panjang sekitar 10 – 20 cm dan lebar 2,5 – 5 cm mendapat pasokan darah dari arteri mesenterika superior dan spelenikus.
Pankreas berfungsi sebagai organ endokrin dan esokrin. Funsinya sebagai organ endokrin didukung oleh pulau-pulau langerhans terdiri tiga jenis yaitu ; Sel alpa yang menghasilkan glikogen, sel beta yang menghasilkan insulin dan sel delta yang menghasilkan somatostatin namun fungsinya belum jelas terpenuhi.
Organ sasaran kedua hormone ini adalah hepar, otot dan jaringan lemak. Glukogen dan insulin memegang peranan penting dalam metabolisme karbonhidrat, protein dan lemak. Bahkan keseimbangan kadar gula darah sangat dipengaruhi oleh kedua hormone ini
Insulin adalah hormone yang dihasilkan didalam sel beta pada sel inta alveolar. Fungsinya adalah merangsang transfer glukosa melalui dinding sel dan dengan demikian meningkatkan peningkatan gula darah diatas batas normal. Glukogen adalah hormone yang dihasilkan oleh sel alpa pada sel intra alveolar, fungsi utamanya adalah mengkonversi glukogen dalam hepar menjadi glukosa, kerja ini menghasilkan efek yang berlawanan dalam kerja insulin.
Struktur pankreas, merupakan kumpulan kelenjar yang masing-masing mempunyai saluran, saluran tersebut bersatu menjadi duktus pankreatikus, duktus pankreatikus menjadi duktus koledukus yang diteruskan ke duodenum di bawah pilorus. Pankreas mempunyai dua fungsi yaitu :
a. Fungsi eksokrin
Mensekresi enzim-enzim pencernaan yang mencakup enzim amilase yang membantu pencernaan karbohidrat, tripsin yang membantu pencernaan protein dan lipase yang membantu pencernaan lemak.
b. Fungsi endokrin
1) Sel beta : memproduksi hormon insulin yang berfungsi menurunkan kadar glukosa dalam darah dengan memfasilitasi masuknya glukosa ke dalam sel jaringan hati, otot dan jaringan lain tempat glukosa disimpan sebagai glikogen atau dibakar untuk menghasilkan energi.
2) Sel alfa : memproduksi hormon glukagon (yang berlawanan dengan efek insulin) terutama adalah menaikkan kadar glukosa darah melalui konversi glikogen menjadi glukosa dalam hati. Glukagon disekresikan oleh pankreas sebagai respon terhadap penurunan kadar glukosa darah.
3) Sel delta : memproduksi hormon somatostatin yang menimbulkan efek hipoglikemik dengan menghambat pelepasan glukagon.
3. Etiologi
a. Diabetes melitus tipe I
1) Faktor genetik: kecenderungan genetik ditemukan pada individu yang memiliki tipe antigen HLA (Human Leucocyte Antigen) yang spesifik (DR3 atau DR40.
2) Autoimun: merupakan respon abnormal dimana antibodi terarah pada sel beta. Reaksi antigen (sel beta) dengan antibodi yang ditimbulkannya menyebabkan hancurnya sel beta.
3) Virus (rubela, mumps)
b. Diabetes melitus tipe II
1) Obesitas
2) Kurang aktivitas
3) Keturunan
4) Usia (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia 65 tahun).
4. Patofisiologi
Insulin merupakan hormon yang diproduksi oleh sel beta pankreas, insulin diproduksi terus menerus sesuai tingkat kadar glukosa dalam darah. Pada penderita diabetes melitus produksi insulin terganggu atau tidak diproduksi sama sekali.Glukosa yang berasal dari makanan tidak dapat disimpan dalam hati dan tetap berada dalam darah menimbulkan hiperglikemia sesudah makan. Hiperglikemia puasa terjadi karena produksi glukosa dalam darah cukup tinggi, ginjal tidak dapat menyerap kembali semua glukosa yang tersaring keluar (> 180 mg/dl), akibatnya terjadi glukosuria. Ketika glukosa berlebihan diekskresi ke dalam urine dan elektrolit yang berlebihan menyebabkan diuresis osmotik. Hal ini akan mengakibatkan pasien mengalami poliuria dan polidipsi. Defisiensi insulin juga mengganggu metabolisme protein dan lemak yang menyebabkan penurunan berat badan, pasien akan mengalami peningkatan selera makan (polifagia) akibat menurunnya simpanan kalori, gejala lainnya mencakup kelelahan dan kelemahan. Pada penderita diabetes melitus proses glikogenolisis (pemecahan glukosa yang disimpan) dan glukoneogenesis (pembentukan glukosa baru dari asam-asam amino serta substansi lain) terjadi tanpa hambatan dan lebih lanjut menimbulkan hiperglikemia. Di samping itu, terjadi pemecahan lemak yang mengakibatkan peningkatan produksi badan keton dan pemecahan protein mengakibatkan peningkatan ureum. Ureum dan keton bersifat asam yang mengganggu keseimbangan asam basa, bila dalam jumlah yang banyak menimbulkan ketoasidosis dengan tanda dan gejala seperti nyeri abdomen, mual, muntah, hiperventilasi, napas berbau aseton, dan bila tidak ditangani akan menimbulkan perubahan kesadaran, koma bahkan kematian.
5. Tanda dan Gejala
a. Tanda dan gejala awal:
1) Poliuria karena kehilangan cairan yang berlebihan.
2) Polidipsi karena dehidrasi intra sel.
3) Polifagia karena pemasukan glukosa menurun.
4) Berkurangnya berat badan
5) Badan lemas dan lelah
b. Tanda dan gejala lanjutan
1) Luka sulit sembuh karena sirkulasi darah yang buruk.
2) Gangren karena luka yang sulit sembuh.
3) Penglihatan kabur terganggunya saraf retinopati.
4) Gatal pada kulit karena terganggunya saraf neuropati.
5) Kesemutan/baal pada ekstremitas karena terganggunya saraf neuropati.
6) Mual dan muntah asidosis metabolik.
7) Membran mukosa mulut kering karena asidosis metabolik
8) Turgor kulit tidak elastis karena asidosis metabolik.
9) Pernafasan bau aseton
10) Pernafasan kusmaul
11) Sakit pada abdomen
12) Diare/konstipasi
13) Kulit kering dan merah
14) Ketidakmampuan berkonsentrasi
15) Tremor
16) Takikardi
17) Palpitasi
18) Kejang
19) Koma
6. Pemeriksaan Diagnostik
a. Tes glukosa darah
1) GDS : mengetahui kadar gula darah sewaktu, normal 70-110 mg/dl.
2) NPP (Nuchter post prandial), normalnya < 140 mg/dl.
Gula darah yang diperiksa dua kali yaitu sebelum makan dan dua jam setelah makan dengan tujuan menegakkan diagnosa dan ditunjukkan kepada klien yang sama sekali belum diketahui adanya penyakit DM.
3) KH (Kurva Harian)
Gula darah diperiksa sebanyak tiga kali yakni sebelum makan, jam 11.00 dan jam 16.00 yang dilakukan secara periodik yang bertujuan untuk mengevaluasi terapi diabetikum.
4) HbA1C, normalnya 4-6%.
Nilai lebih dari 8% menunjukkan diabetes yang tidak terkontrol.
b. Pemeriksaan urin
Untuk mengetahui kadar glukosa dan keton dalam urin.
c. AGD
Untuk mengetahui adanya asidosis metabolik.
d. Serum elektrolit : natrium mungkin normal, meningkat atau menurun; kalium normal atau meningkat selanjutnya akan menurun; fosfor: lebih sering menurun.
e. Glucose Toleransi Test ( GTT )
Pemeriksaan dilakukan sebanyak 5 kali yang mana sebelumnya pasien diberi glukosa baik oral maupun parenteral. Dan ini ditujukan pada pasien yang pada pengkajian didapatkan adanya Diabetes mellitus.
7. Penatalaksanan Medik
Tujuan terapeutik pada diabetes melitus adalah untuk mencapai kadar glukosa darah normal tanpa terjadinya hipoglikemia dan gangguan serius pada pola aktivitas pasien. Ada lima komponen dalam penatalaksanaan diabetes:
a. Diet
Penatalaksanaan nutrisi pada penderita diabetes diarahkan untuk memberikan semua unsur makanan esensial (vitamin, mineral), mempertahankan berat badan yang sesuai, memenuhi kebutuhan energi, mencegah fluktuasi kadar glukosa darah mendekati normal melalui cara-cara yang aman/praktis dan menurunkan kadar lemak darah jika kadar ini meningkat.
Komposisi diet karbohidrat 60-70%, protein 10-15%, lemak 20-25%, tinggi serat, hindari alkohol.
b. Aktivitas dan latihan
Latihan dilakukan 3-4 kali seminggu selama 30-60 menit.
Fungsi latihan :
1) Menurunkan berat badan, mengurangi rasa stress dan mempertahankan kesegaran tubuh.
2) Meningkatkan penggunaan glukosa oleh otot yang aktif.
3) Menurunkan kadar glukosa darah dan mengurangi faktor resiko kardiovaskuler.
4) Mencegah komplikasi.
Syarat latihan :
1) Dilakukan setelah pemasukan karbohidrat 1-2 jam.
2) Disesuaikan dengan kadar gula darah, tidak dilakukan bila kadar gula darah > 250 mg/dl.
Pedoman untuk latihan :
1) Hindari latihan dalam udara yang sangat panas/dingin.
2) Gunakan alas kaki yang tepat, dan bila perlu alat pelindung kaki yang lainnya.
3) Periksa kaki setiap hari sesudah melakukan latihan.
4) Hindari latihan saat pengendalian metabolik buruk.
c. Terapi farmakologik
1) Insulin untuk DM tipe I.
2) Obat anti diabetik oral untuk DM tipe II.
Fungsinya :
1) Mengatur transpor glukosa dalam sel.
2) Membantu menurunkan kadar glukosa darah mendekati nilai normal.
d. Pemantauan/monitoring
Melakukan pemeriksaan kadar gula darah secara teratur dan menjaga kadar HbAlC < 7% yang merupakan indikator kontrol hiperglikemia.
e. Penyuluhan
Tujuan penyuluhan adalah meningkatkan pengetahuan, merubah perilaku dan memperbaiki kualitas hidup, serta menghindari komplikasi:
1) Patofisiologi sederhana yaitu definisi penyakit, batas-batas kadar glukosa yang normal, efek terapi insulin dan latihan, efek makanan dan stres yang mencakup keadaan sakit dan infeksi dan dasar pendekatan terapi.
2) Cara-cara terapi yaitu pemberian insulin, dasar-dasar diet (kelompok makanan dan jadwal), pemantauan kadar gula darah dan keton urine.
3) Pengenalan, penanganan dan pencegahan komplikasi akut yaitu hipoglikemia dan hiperglikemia.
4) Informasi yang pragmatis yaitu dimana membeli dan menyimpan insulin, alat-alat untuk memantau kadar gula darah, kapan dan bagaimana cara menghubungi dokter.
5) Perawatan yaitu : kaki, mata, higiene umum dan kebersihan kulit.
6) Pengendalian faktor resiko yaitu mengendalikan tekanan darah dan kadar lemak.
8. Komplikasi
a. Komplikasi jangka pendek
1) Diabetik ketoasidosis (DKA)
Disebabkan oleh tidak adanya insulin atau tidak cukup jumlah insulin. Keadaan ini mengakibatkan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak, protein. Gambaran klinis yang penting dalam diabetik ketoasidosis yaitu dehidrasi, kehilangan elektrolit, asidosis.
Penanganannya dengan periksa gula darah setiap jam, elektrolit, AGD, tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu setiap jam, keadaan hidrasi, balance cairan, pemberian oksigen bila PO2 < 80 mmHg.
2) Hipoglikemi (kadar gula darah < 70 mg/dl)
Keadaan ini akibat pemberian insulin atau preparat oral antidiabetik yang berlebihan, konsumsi makanan yang terlalu sedikit atau karena aktivitas fisik yang berat. Gejala hipoglikemia dapat terjadi mendadak dan tanpa diduga sebelumnya. Hipoglikemia ringan ketika kadar glukosa darah menurun. Tanda-tanda hipoglikemia ringan: tremor, takikardi, palpitasi, kegelisahan dan rasa lapar. Hipoglikemia sedang : penurunan glukosa darah menyebabkan sel-sel otak tidak memperoleh cukup bahan bakar untuk bekerja dengan baik, tanda-tanda: ketidak-mampuan berkonsentrasi, sakit kepala, vertigo, konfusi, penurunan daya ingat, mati rasa di daerah bibir serta lidah, gerakan tidak terkoordinasi, perubahan emosional, penglihatan ganda dan perasaan ingin pingsan. Sedangkan hipoglikemia berat; fungsi sistem saraf pusat mengalami gangguan yang sangat berat sehingga pasien menunjukkan gejala perilaku yang disorientasi, serangan kejang, sulit dibangunkan dari tidur atau bahkan kehilangan kesadaran. Penanganan hipoglikemia: stadium awal: pemberian gula murni + 30 gram (2 sendok makan) atau sirop, permen dan makanan yang mengandung hidrat arang. Stadium lanjut (koma): berikan larutan glukosa 40% sebanyak flacon, melalui intravena setiap 10-20 menit hingga sadar disertai pemberian infus dextrose 10% 6 jam/kolf (20-21 tetes/menit). Bila belum teratasi dapat diberikan antagonis insulin seperti adrenalin, kortison atau glukagon 1 mg intravena.
3) Sindrome Hiperglikemik Hiperosmolar Non Ketotik (SHHNK)
Merupakan keadaan yang didominasi oleh hiperosmolalitas, hiperglikemi dengan disertai perubahan tingkat kesadaran. keadaan ini paling banyak terjadi pada individu yang berusia 50-70 tahun karena peningkatan usia yang khas pada penderita SHHNK, maka pemantauan ketat terhadap status volume dan elektrolit diperlukan untuk mencegah gagal jantung kongestif dan disritmia jantung.
b. Komplikasi jangka panjang
1) Mikrovaskular
a) Nefropati
Bila kadar glukosa darah meningkat maka mekanisme filtrasi ginjal mengalami stres yang menyebabkan kebocoran protein ke dalam urine, akibatnya tekanan dalam pembuluh darah ke ginjal meningkat yang akhirnya kegagalan ginjal dapat terjadi.
b). Neuropati
(1). Neuropati perifer
Sering mengenal bagian distal serabut saraf, khususnya saraf ekstremitas bawah.
(2). Neuropati otonom
Organ-organ yang terkena neuropati otonom, kardiovaskuler (takikardia, hipotensi ortostatik dan infark) dan gastrointestinal (pengosongan lambung ke duodenum menjadi terhambat sehingga terjadi mual, muntah, makan sedikit sudah kenyang.
(3). Retinopati, menyerang pembuluh-pembuluh darah retina sehingga mengalami kebutaan.
c). Makrovaskular
Terjadi kerusakan makrovaskuler di arteri besar. Komplikasi makrovaskular terjadi akibat penebalan membran basal pembuluh-pembuluh besar. Penebalan makrovaskular menyebabkan iskemia dan penurunan penyaluran oksigen ke jaringan. Komplikasi makrovaskular timbul terutama akibat aterosklerosis yang menyebabkan gangguan aliran darah, sehingga timbul penyakit jangka panjang dan peningkatan mortalitas.
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
Pada tahap ini semua data / informasi tentang pasien yang dibutuhkan, dikumpulkan dan analisa untuk menentukan diagnosa keperawatan yang dilakukan melaui tiga tahap yaitu : pengumpulan, pengelompokan atau pengorganisasian serta menganalisa dan merumuskan diagnosa keperawatan :
a. Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan
1). Riwayat penyakit pasien dan keluarga.
2). Penggunaan obat seperti steroid, diurektik (tiazid), dilantin dan fenobarbital (dapat meningkatkan kadar glukosa darah)
3). Usia > 30 tahun atau < 30 tahun
4). Tergantung pada insulin
5). Obesitas
6). Kurang latihan/aktivitas
7). Ketaatan menjalankan terapi
b. Pola nutrisi metabolik
1). Polifagia
2). Polidipsi
3). Luka sulit sembuh
4). Mual dan muntah
5). Haus
6). Berat badan menurun
7). Turgor kulit berkurang
8). Kulit kering
c. Pola eliminasi
1). Poliuria
2). Nokturia
3). Diare/konstipasi
4). Rasa nyeri/terbakar saat berkemih
5). Bising usus lemah dan menurun, hiperaktif (diare).
d. Pola aktivitas dan latihan
1). Lemah, letih, sulit bergerak/berjalan
2). Tonus otot menurun
3). Kram otot
e. Pola tidur dan istirahat
1). Sering terbangun karena nokturia
f. Pola persepsi kognitif dan sensori
1). Pusing/pening
2). Sakit kepala
3). Kesemutan
4). Baal
5). Kram otot
6). Pandangan kabur
7). Nyeri abdomen.
g. Pola persepsi dan konsep diri
1). Harga diri rendah karena penyakit.
2). Masalah finansial.
h. Pola peran dan hubungan dengan sesama
1). Perubahan peran dalam keluarga/masyarakat.
i. Pola reproduksi seksual
1). Impoten pada pria
2). Penurunan libido
j. Pola mekanisme koping terhadap stress
1). Ansietas
2). Peka rangsang
3). Apatis.
k. Pola nilai dan kepercayaan
1). Komitmen untuk merubah gaya hidup: diet, obat, aktivitas.
2). Berusaha untuk mengubah cara hidup, diit, pengobatan dan pola aktivitas.
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang menjelaskan status atau masalah kesehatan aktual atau potensial, tujuannya adalah mengidentifikasi pertama, adanya masalah actual berasarkan respon klien terhadap masalah atau penyakit. Kedua, faktor-faktor yang berkontribusi atau penyebab adanya masalah kemampuan klien untuk mencegah atau menghilangkan masalah
a. Kekurangan volime cairan tubuh berhubungan dengan diurisis osmotik dari hiperglikemi kehilangan gastric berlebihan: diare, muntah masukan dibatasi mual, kacau mental.
b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidak cukupan insulin(penurunan ambilan dan pengunaan glukosa) oleh jaringan mengakibatkan peningkatan metabolisme protein/lemah penurunan masukan oral: anoreksia, mual, lambung penuh, nyeri abdomen, perubahan kesadaran, status metabolisme, pelepasan hormone stress (missal epineprin, kortisol, dan hormone pertumbuhan proses infeksius).
c. intoleransi aktifitas berhubungan dengan mobilisasi dan kelemahan fisik
d. potensial atau aktual terjadi perlukaan dan infeksi berhubungan dengan tingginya kadar gula darah, penurunan fungsi leukosit
e. kurang pengetahuan tentang tanda dan gejala DM, diet, pengobatan yang berhubungan dengan kurang informasi
f. perubahan persepsi sensori berhubungan dengan ketidak seimbangan glukosa atau insulin dan elektrolit.
3. Perencanaan Keperawatan
a. DP 1. Kekurangan volume cairan tubuh berhubungan dengan diuresis osmotic (dari hipergikemi) kehilangan gastric berlebihan: diare, muntah, mual, kacau mental kemungkinan dibuktikan oleh peningkatan haluaran urin, urin encer, kelemahan, haus, penurunan berat badan tiba-tiba, kulit/membrane mukosa kering, turgor kulit buruk, hipotensi, taki kardi, perambatan fungsi kapiler.
Hasil yang diharapkan : Hidrasi adekuat yang ditandai oleh TTV stabil, nadi perifer dapat diraba, turgor kulit dan pengisian kapiler baik, kadar elektrolit dalam batas normal dalam waktu 3 hari.
Intervensi:
1). dapatkan riwayat klien atau orang terdekat sehubungan dengan lamanya atau intensitas dari gejal seperti muntah, pengeuaran urin yang sangat berlebihan
Rasional: bantu dalam memperkirakan kekurangan volume cairan total, tanda dan gejala mungkin sudah ada pada beberapa waktu sebelumnya. Kaji warna kulit, kelembaban, suhu tubuh.
2). Kaji nadi perifer, pengisian kapiler, turgor kulit dan membran mukosa.
Rasional: Indikator dari tingkat dehidrasi, atau volume sirkulasi yang adekuat.
3). Pantau masukan dan pengeluaran.
Rasional: Memberi perkiraan kebutuhan akan cairan pengganti, fungsi ginjal, dan keefektifan dari terapi yang diberikan.
4). Beri cairan paling sedikit 2500 ml/hari dalam batas yang dapat ditoleransi jantung jika pemasukan cairan oral sudah dapat diberikan.
Rasional: Mempertahankan hidrasi/volume sirkulasi.
5). Kolaborasi dengan tim medik, pemeriksaan serum elektrolit dan terapi cairan intravena.
Rasional: Identifikasi kekurangan elektrolit dan sebagai pemenuhan cairan yang keluar.
b. DP 2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidak cukupan insulin(penurunan ambilan dan pengunaan glukosa) oleh jaringan mengakibatkan peningkatan metabolisme protein/lemah penurunan masukan oral: anoreksia, mual, lambung penuh, nyeri abdomen, perubahan kesadaran, status metabolisme, pelepasan hormone stress (missal epineprin, kortisol, dan hormone pertumbuhan proses infeksius)
Hasil yang diharapkan : Kebutuhan nutrisi tetap terpenuhi yang ditandai BB stabil, kebutuhan kalori terpenuhi, hasil gula darah dalam batas normal (GDS < 140 mg/dl) dalam waktu 5 hari.
Intervensi:
a). Timbang BB setiap 1 minggu sekali.
Rasional: Mengkaji pemasukan makanan yang adekuat.
b). Auskultasi bising usus, catat adanya nyeri abdomen/perut kembung, mual, muntah.
Rasional: Hiperglikemi dan gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit dapat menurunkan motilitas/fungsi lambung.
c). Pantau kadar gula darah.
Rasional: Kadar glukosa darah dapat mempengaruhi ambang batas ginjal.
d). Observasi tanda-tanda hipoglikemia, seperti perubahan tingkat kesadaran, kulit lembab/dingin, denyut nadi cepat, lapar, cemas, pusing.
Rasional: Jika pasien dalam keadaan koma, hipoglikemia mungkin terjadi tanpa memperlihatkan perubahan tingkat kesadaran.
e). Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian insulin secara teratur dengan metode IV secara intermiten atau secara kontinyu.
Rasional: Insulin reguler memiliki awitan cepat dan karenanya dengan cepat pula dapat membantu memindahkan glukosa ke dalam sel.
c. DP 3. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan mobilisasi dan kelemahan fisik
Hasil yang diharapkan : Klien menunjukkan peningkatan energi yang ditandai dengan mampu berpartisipasi dalam aktivitas yang dilakukan dalam waktu 3 hari.
Intervensi:
1). Observasi nadi, pernapasan dan tekanan darah sebelum/sesudah melakukan aktivitas.
Rasional: Mengindikasikan tingkat aktivitas yang dapat ditoleransi secara fisiologis.
2). Diskusikan cara menghemat kalori selama mandi, berpindah tempat dan sebagainya.
Rasional: Pasien akan dapat melakukan lebih banyak kegiatan dengan penurunan kebutuhan akan energi pada setiap kegiatan.
3). Beri aktivitas alternatif dengan periode istirahat yang cukup.
Rasional: Untuk mencegah kelelahan yang berlebihan.
4). Tingkatkan partisipasi pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari sesuai dengan tingkat yang dapat ditoleransi.
Rasional: Meningkatkan kepercayaan diri yang positif sesuai tingkat aktivitas yang dapat ditoleransi pasien.
5). Dekatkan alat-alat yang dibutuhkan pasien.
Rasional: Mengurangi kebutuhan energi
d. DP 4. potensial atau aktual terjadi perlukaan dan infeksi berhubungan dengan tingginya kadar gula darah, penurunan fungsi leukosit
Hasil yang diharapkan :kulit utuh, tidak terjadi infeksi, klien mengungkapkan tidak ada keluhan gatal dan kesemutan.
Intervensi:
1). Observasi tanda-tanda infeksi seperti demam, kemerahan, nyeri, adanya pus pada luka.
Rasional: Pasien mungkin masuk dengan infeksi yang biasanya telah mencetuskan keadaan ketoasidosis atau dapat mengalami infeksi nosokomial.
2). Cuci tangan sebelum dan setelah melakukan tindakan pada pasien.
Rasional: Mencegah timbulnya infeksi silang (infeksi nosokomial).
3). Pertahankan tehnik aseptik pada prosedur invasif (pemasangan infus, kateter folley, pemberian obat IV).
Rasional: Kadar glukosa yang tinggi dalam darah akan menjadi media terbaik bagi pertumbuhan kuman.
4). Bantu pasien untuk melakukan higiene oral.
Rasional: Menurunkan resiko terjadinya penyakit mulut/gusi.
5). Anjurkan untuk makan dan minum adekuat (pemasukan makanan dan cairan yang adekuat, kira-kira 3000 ml/hari jika tidak ada kontraindikasi).
Rasional: Menurunkan kemungkinan terjadinya infeksi.
6). Beri lotion pada kulit.
Rasional: Mengurangi kekeringan pada kulit dan memberi kelembaban.
7). Anjurkan untuk selalu memakai alas kaki, menjaga ujung jari dan kaki tetap kering.
Rasional: Mencegah terjadinya luka dan lecet pada kaki.
e. Dp 5. Kurang pengetahuan mengenai kondisi, prognosis dan pengobatan yang berhubungan dengan kesalahan interprestasi informasi, kurang mengingat, tidak mengenal sumber-sumber informasi
Tujuan : Pengetahuan klien bertambah setelah diberikan tindakan keperawatan (penyuluhan kesehatan).
Sasaran : Pemahaman tentang proses penyakit
Intervensi :
1) Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang proses penyakit,
Rasional : mengetahui sejauh mana pengetahuan klien dan keluarga
2) Jelaskan kepada klien dan keluarga tentang proses penyakit
Rasional : agar klien dan keluarga mengerti dan memahami tentang proses penyakit
3) Lakukan penyuluhan tentang proses penyakit
Rasional : agar lebih mengerti tentang proses penyakit.
f. DP 6: Perubahan persepsi sensri berhubungan dengan ketidak seimbangan gluksa atau insulin dan elektrlit.
Hasil yang diharapkan: terpelihara status mental dan mengenali serta mengamati kerusakan sensori.
Interpensi :
1). Monitor tanda-tanda vital dan status mental
Rasional : sebagai dasar untuk perbandingan dari nilai yang abnomal seperti suhu yang tinggi mempengaruhi mental
2). tanyakan pada klien nama, kebutuhan, tempat, orang, waktu, berikan penjelasan singkat bicara secara perlahan dan ucapan yang biasa
Rasional : mengurangi kebingungan dan Bantu untuk mengadakan kontak dan reaita.
3). Rencanakan waktu perawatan untuk tidak menganggu waktu istirahat
Rasinal: peningkatan waktu istirahat atau mengurangi kelelahan dapat mengarahkan perhatian.
4). Bantu klien dalam rutinitas yang dimungkinkan, ajak klien untuk berpartisipasi dalam aktipitas kesehatan bila dimungkinkan
Rasional : Bantu klien dalam melihat realitas dan mengarahkan orientasi pada lingkungan
5). Hindari klien dari injuri (pasang restrain) bila kesadarannya terganggu dan menurun
Rasional : klien disoriantasi cendrung injuri, khususnya malam hari dan indikasi untuk memberikan tindakan pencegahaan
6). sediakan kompres hangat tangan dan kaki gunakan selimut hangat
Rasional: berkurangannya kegelisahan dan potensia injuri.
7). Bantu klien untuk ambulasi atau pergantian posisi
Rasional : meningkatkan keselamatan klien, khususnya bila klien dalam keadaan syok.
b. Implementasi
Pelaksanaan adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik( Lyer, Er, Al, 1996). Tahap pelaksanaan dimulai setelah rencana tindakan disusun dan dilanjutkan pada nursing orders untuk membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan. Oleh karena itu rencana tindakan yang spesifik dilaksanakanuntuk memodifikasi factor- factor yang mempengaruhi masalah kesehatan pasien. Tujuan dari pelaksanaan adalah membantu dalam pasien mencapai tujuan yang telah di tetap kan, yang mencakup peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, pemulihan kesehatan dan manisfestasi koping. Dalam memberikan asuhan keperawatan, perawat harus bekerja sama dengan pasien, keluarga serta anggota tim kesehatan yang lain sehingga asuhan yang di berikan dapat optimal dan komprehensif.
c. Evaluasi
Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan yang menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan, rencana tindakan dan pelaksanaan sudah berhasil di capai. Melalui evaluasi memungkinkan perawat untuk memonitor ” kealpaan” yang terjadi selama tahap pengkajian analisa, perencanaan dan pelaksanaan tindakan. Adapun evaluasi yang diharapkan pada penyakit Diabetes Mellitus berdasarkan diagnosa yang muncul adalah bebas dari nyeri, kadar gula darah dalam batas normal, bebas dari malnutrisi, pasien bebas dari infeksi dan dapat beraktivitas serta pengetahuan bertambah
Read More..

